Dipengaruhi Pemadaman Listrik, Indeks Kepercayaan Industri Juni 2026 Melambat

Kamila Meilina
30 Juni 2026, 18:13
Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan salah satu gedung di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6/2026).
ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/nz
Sejumlah pekerja menyelesaikan pembangunan salah satu gedung di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/6/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Kepercayaan Industri Juni 2026 melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Sejumlah tantangan menghadang pertumbuhan industri mulai dari harga gas industri, pelemahan daya beli akibat kenaikan BBM nonsubsidi, hingga pemadaman listrik bergilir.

Berdasarkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kementerian Perindustrian, nilai IKI Juni tercatat sebesar 52,9 atau tetap menunjukkan ekspansi, meski melambat 0,66 poin dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 53,56.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan industri masih memiliki daya tahan di tengah berbagai tekanan yang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

“Industri Juni ini tantangannya lebih banyak dan lebih berat dibandingkan bulan Mei. Tantangannya bukan cuma dari sisi produksi, tetapi juga dari sisi permintaan,” ujar Febri dalam konferensi pers IKI Juni di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (30/6). 

Pada Mei lalu, industri menghadapi tekanan kenaikan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku impor yang dipengaruhi konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan energi global, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut membuat biaya bahan baku meningkat dan menekan pelaku industri.

Dipengaruhi Pemadaman Listrik

Memasuki Juni, tekanan industri bertambah dengan adanya gangguan pada sisi produksi. Salah satunya adalah pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah industri dan kawasan industri. Kondisi itu menyebabkan beberapa industri harus menghentikan kegiatan produksi selama pemadaman berlangsung.

Selain itu, industri juga menghadapi tantangan dari sisi input produksi, khususnya kenaikan harga gas bumi, terutama gas yang berasal dari regasifikasi LNG.

Di sisi lain, tantangan baru muncul dari sisi permintaan. Febri menjelaskan, pada Juni terdapat kenaikan harga sejumlah barang konsumsi rumah tangga meski masih dalam rentang inflasi yang terkendali. 

Selain itu, kenaikan harga BBM nonsubsidi turut memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat, terutama bagi pengguna BBM nonsubsidi.

“Ketika masyarakat mengeluarkan biaya lebih besar untuk energi, ruang pengeluaran untuk membeli produk manufaktur bisa berkurang,” kata Febri.

Meski demikian, industri masih mendapat dukungan dari sisi ekspor. Permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor nonmigas menunjukkan pertumbuhan positif. Ke depan, Kemenperin menilai industri masih memiliki prospek yang cukup resilien karena ditopang permintaan domestik yang besar.

Pemerintah juga memperkirakan berbagai program belanja pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), program B50, serta pengembangan Kampung Nelayan dapat meningkatkan permintaan terhadap produk manufaktur.

Berdasarkan data Kemenperin, sebanyak 22 dari 23 subsektor industri pengolahan tercatat mengalami ekspansi pada Juni 2026. Subsektor yang masih tumbuh tersebut memiliki kontribusi sekitar 98,6 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

Dari sisi variabel pembentuk IKI, indeks pesanan baru Juni 2026 berada di level 53,35, produksi sebesar 54,28, sementara persediaan produk berada di level 49,72 atau masuk zona kontraksi.

Jika dilihat dari variabel pembentuk IKI, terdapat perlambatan pada beberapa indikator utama. Indeks pesanan baru pada Juni 2026 berada di level 53,35, turun 0,12 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara itu, indeks produksi tercatat sebesar 54,28 atau mengalami penurunan 0,92 poin dibandingkan Mei 2026. Adapun indeks persediaan produk mengalami penurunan paling besar, yakni turun 1,61 poin menjadi 49,72 dan masuk ke zona kontraksi.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...