Lippo dan Pakuwon Sepakat Bongkar Pagar Mal: Situasi Sudah Tenang
Pemilik dua jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Indonesia, Lippo Group dan Pakuwon Group, buka suara terkait pemasangan pagar di sejumlah mal. Kondisi keamanan nasional dinilai tetap kondusif sehingga pemasangan pagar tak dibutuhkan lagi.
Chairman Lippo Group James T. Riady mengatakan pemasangan pagar di beberapa lokasi disebutnya merupakan kasus yang sepenuhnya menjadi keputusan operasional manajemen setempat, bukan kebijakan pemilik perusahaan.
"Itu hanya inisiatif manajemen lokal, bukan kebijakan pemilik ataupun kantor pusat. Bahkan setelah dikonfirmasi, pagar seperti itu memang tidak diperlukan," ujar dia dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (4/8).
Pemasangan pagar di pusat perbelanjaan juga disebutnya pernah dilakukan saat Indonesia menghadapi kerusuhan pada masa lalu. Namun, seluruh pagar di mal milik Lippo telah lama dibongkar seiring membaiknya situasi keamanan.
"Dulu semua mal memasang pagar ketika terjadi kerusuhan. Sekarang sudah tidak diperlukan lagi karena situasi sudah tenang," ujanya.
Sementara itu, pendiri Pakuwon Group Alexander Tedja memastikan pagar yang sempat dipasang di Mal Kota Kasablanka (Kokas), Jakarta Selatan, akan segera dibongkar.
Menurutnya, pemasangan pagar tersebut merupakan keputusan manajemen lokal dan bukan kebijakan perusahaan maupun pemegang saham.
"Itu kebijakan manajemen lokal dan akan segera dibongkar," kata Alex.
Keduanya menyatakan hal ini usai bertemu dan berdiskusi dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait.
Maruarar mengaku telah berbicara langsung dengan Alexander Tedja terkait polemik tersebut. Menurutnya, Pakuwon Group memastikan pagar di Kokas akan segera dibongkar, sedangkan penataan di properti Pakuwon lainnya akan disesuaikan agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat.
"Saya juga sudah berbicara langsung dengan Pak Alex Tedja. Beliau mengatakan itu hanya inisiatif manajemen lokal dan akan segera diselesaikan," ujar Maruarar.
Ia menilai penjelasan kedua pengusaha itu, terkait situasi kondisi yang disebut masih kondusif, diharapkan dapat mengakhiri spekulasi yang berkembang di masyarakat.
"Faktanya, situasi keamanan kondusif, aktivitas ekonomi berjalan normal, pusat-pusat perbelanjaan ramai dikunjungi, bahkan permintaan ruang usaha terus meningkat. Tidak ada alasan untuk membangun persepsi seolah-olah kondisi keamanan memburuk," kata Maruarar.
Lippo Sebut Permintaan Ruang Ritel Tetap Tinggi
James menilai tidak ada alasan bagi masyarakat untuk khawatir terhadap kondisi sosial maupun ekonomi. Menurutnya, berbagai kebijakan pemerintah dalam menjaga harga BBM bersubsidi, LPG 3 kilogram, dan tarif listrik rumah tangga bersubsidi berhasil menjaga daya beli masyarakat di tengah gejolak global.
Ia menambahkan, kondisi tersebut tercermin dari tingginya permintaan ruang usaha di pusat perbelanjaan. Bahkan, menurut James, permintaan tenant saat ini melampaui ketersediaan ruang ritel modern.
"Sekarang justru kekurangan ruang. Permintaan untuk membuka toko lebih besar daripada pasokan ruang di pusat perbelanjaan modern. Ini masa emas bagi bisnis mal," ujarnya.
Optimisme tersebut juga mendorong Lippo Group terus melakukan ekspansi. Saat ini perusahaan mengelola 106 pusat perbelanjaan yang terdiri atas 71 mal dan 35 shopping center di lebih dari 29 kota di Indonesia.
James menegaskan, apabila kondisi keamanan tidak kondusif, pelaku usaha tidak akan terus berekspansi maupun berlomba membuka gerai baru.
"Kalau situasi tidak aman, tentu para tenant tidak akan berlomba membuka toko," katanya.
