Proses impor stok barang lebaran masih tertahan dalam proses perizinan. Penundaan itu dikhawatirkan dapat mengganggu penjualan pada periode belanja puncak masyarakat.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengingatkan potensi periode sepi kunjungan atau low season yang lebih panjang di pusat perbelanjaan atau mal setelah Idul Fitri 2026.
Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menargetkan nilai transaksi ritel selama periode Lebaran 2026 dapat menembus lebih dari Rp 50 triliun.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja atau APBI akan menyelenggarakan dua program diskon pada bulan depan yang akan dilaksanakan terpisah, yakni Imlek dan Ramadan 2026.
Hippindo menyatakan toko produk mewah di mal sempat menghentikan operasi atau menggudangkan produk dengan harga tertingginya pada 30-31 Agustus lalu karena khwatir penjarahan.
Menurut Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies, Piter Abdullah Redjalam, mengatakan fenomena rojali dan rohana itu bukanlah penyebab utama melemahnya belanja di mal.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengatakan 400 mal anggota mereka akan menyelenggarakan diskon atau promo melalui program Indonesia Shopping Festival (ISF).
BPS mengevaluasi rojali, sebuah fenomena dimana masyarakat ramai-ramai mengunjungi pusat belanja tanpa membeli, sebagai indikator tekanan ekonomi yang perlu diwaspadai lebih lanjut.