Mendag Ungkap Penyebab Neraca Perdagangan RI Defisit Dua Bulan

Kamila Meilina
5 Agustus 2026, 19:45
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (21/7/2026). Kementerian ESDM menyatakan devisa ekspor batu bara selama semester I 2026 telah mencapai 14 miliar-15 miliar dollar AS atau mencapai Rp250 tri
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/sg
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (21/7/2026). Kementerian ESDM menyatakan devisa ekspor batu bara selama semester I 2026 telah mencapai 14 miliar-15 miliar dollar AS atau mencapai Rp250 triliun hingga Rp268 triliun sedangkan realisasi Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor ESDM sudah mencapai Rp85,58 triliun atau 62,84persen dari target PNBP tahun 2026 sebesar Rp136,18 triliun, capaian tersebut menunjukkan sektor pertambangan masih mampu
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menilai kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor utama yang mendorong neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit dalam dua bulan terakhir. Meski demikian, pemerintah optimistis neraca perdagangan akan kembali mencatatkan surplus seiring meningkatnya kinerja ekspor.

Budi mengatakan, secara kumulatif kinerja perdagangan Indonesia sepanjang semester I 2026 masih menunjukkan tren positif. Nilai ekspor Januari-Juni 2026 tumbuh 4,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan surplus neraca perdagangan mencapai sekitar US$3,5 miliar.

“Kemudian bulan Mei memang defisit US$1,6 miliar, tapi sekarang bulan Juni defisitnya US$450 juta. Artinya sudah mulai membaik karena ekspor kita juga meningkat. Dari bulan Mei ke Juni naik 9,7%," ujar Budi ditemui di Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

Menurut dia, penyebab utama defisit bukan berasal dari melemahnya perdagangan nonmigas, melainkan lonjakan harga minyak dunia yang meningkatkan nilai impor migas.

"Ini karena harga minyak yang naik. Bulan Maret-April itu puncaknya harga minyak di atas US$110 per barel, padahal sebelumnya di bawah US$100," katanya.

Kenaikan harga minyak menyebabkan nilai satuan impor per ton meningkat sekitar 14% jika dibandingkan dengan kondisi pada Maret. Akibatnya, nilai impor Indonesia membengkak meski volume barang yang diimpor tidak mengalami perubahan signifikan.

Berdasarkan simulasi Kementerian Perdagangan, apabila harga minyak tetap berada pada level Maret dengan volume ekspor dan impor seperti saat ini, Indonesia seharusnya masih mampu mencatatkan surplus neraca perdagangan sekitar US$2,73 miliar.

"Kalau nilai satuan impornya menggunakan kondisi bulan Maret dibandingkan bulan Juni, maka kita surplus US$2,73 miliar. Jadi ini lebih terutama karena harga minyak naik," ujarnya.

Budi mengatakan strategi yang dapat dilakukan adalah terus mendorong peningkatan ekspor agar surplus neraca perdagangan tetap terjaga.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit sebesar US$450 juta pada Juni 2026. Meski masih negatif, nilai tersebut membaik dibandingkan defisit Mei yang mencapai US$1,6 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan defisit Juni terutama berasal dari perdagangan minyak dan gas (migas) yang masih mengalami tekanan.

"Defisit pada Juni terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas sebesar US$3,49 miliar, dengan komoditas utama penyumbang defisit yaitu hasil minyak dan minyak mentah," kata Ateng.

Di sisi lain, neraca perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus sebesar US$3,04 miliar yang ditopang oleh ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

BPS mencatat nilai impor Indonesia pada Juni mencapai US$25,91 miliar atau naik 34,27% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan ekspor yang tumbuh 8,84% menjadi US$25,46 miliar. Lonjakan impor terutama didorong oleh impor migas yang meningkat 105,15% menjadi US$4,56 miliar.

Selain kebutuhan energi, kenaikan impor juga berasal dari meningkatnya impor bahan baku dan barang modal yang digunakan untuk mendukung aktivitas produksi dalam negeri.

Secara kumulatif, ekspor Indonesia pada Januari-Juni 2026 mencapai US$140,81 miliar atau tumbuh 4,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, impor meningkat lebih tinggi sebesar 18,69% menjadi US$137,24 miliar.

Meski mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut, Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,58 miliar pada semester I 2026. Surplus tersebut ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar US$19,35 miliar yang mampu mengimbangi defisit migas sebesar US$15,77 miliar.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...