Peternak Pertanyakan Investasi Danantara Rp44,7 T ke Perusahaan Daging Asing
Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) menyambut investasi Danantara Indonesia senilai US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,75 triliun ke JBS Group. Namun, peternak mempertanyakan sejauh mana investasi tersebut akan memperkuat industri sapi dan daging di dalam negeri.
Sekretaris Jenderal DPP PPSKI Robi Agustiar mengatakan investasi tersebut menunjukkan pemerintah masih melihat industri sapi potong sebagai sektor yang menarik dan memiliki prospek.
"Artinya industri sapi potong atau industri protein ini masih positif dan menarik di mata pemerintah. Buktinya pemerintah menanamkan dananya yang cukup besar sebagai investasi di bidang ini," ujar Robi kepada Katadata.co.id, Rabu (12/8).
Meski demikian, keputusan Danantara berinvestasi ke JBS yang beroperasi di Australia dan Selandia Baru menjadi pertanyaan. Sebab menurutnya, pemerintah seharusnya juga menjelaskan bagaimana investasi tersebut nantinya dapat memberikan manfaat bagi industri sapi di Indonesia.
"Yang kami pertanyakan adalah kenapa investasinya di luar. Kenapa tidak melakukan investasinya di dalam negeri?" katanya.
Danantara Investment Management (DIM) menginvestasikan US$2,5 miliar atau sekitar Rp44,75 triliun untuk mendapatkan 25% saham pada perusahaan patungan baru dengan JBS. Perusahaan patungan itu akan mengelola bisnis JBS di Australia dan Selandia Baru.
Kemitraan ini ditujukan untuk mengembangkan ekosistem protein Indonesia dan memperkuat rantai pasok protein di Asia Tenggara.
Selain investasi awal US$2,5 miliar, perusahaan patungan tersebut berpotensi mendapatkan tambahan pembiayaan hingga US$2,5 miliar. Dana tersebut nantinya dapat digunakan untuk akuisisi dan investasi baru di Indonesia, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru.
Robi berharap sebagian dari investasi tersebut pada akhirnya juga masuk ke Indonesia, misalnya untuk membeli perusahaan lokal atau meningkatkan teknologi dan sumber daya manusia.
"Kami berharap JBS itu adalah perusahaan protein terbesar di dunia yang berkantor pusat di Brasil. Kalau boleh, sebagian dananya diinvestasikan balik ke Indonesia," ujarnya.
Peternak Tunggu Dampak ke Dalam Negeri
Dampak investasi ini terhadap industri dalam negeri belum bisa diprediksi. Robi mengatakan, dampaknya baru dapat dilihat setelah ada kejelasan mengenai langkah bisnis Danantara selanjutnya.
Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi. Menurut dia, produksi lokal baru memenuhi sekitar 40%-43% kebutuhan nasional. Artinya, lebih dari separuh kebutuhan masih harus dipenuhi dari impor.
"Kita sendiri kan supply lokal itu masih sekitar 40%-43%, nah sisanya sudah impor," katanya.
Karena itu, Robi ingin mengetahui apakah kerja sama dengan JBS nantinya akan membantu meningkatkan produksi sapi lokal atau justru semakin memperkuat bisnis impor.
"Danantara ini akan mendukung mana? Apakah mendukung produksi lokal atau menguasai importasi ini?" ujarnya.
Dia juga berharap ada kesempatan bagi peternak dan perusahaan lokal untuk bekerja sama dengan Danantara maupun JBS, misalnya melalui transfer teknologi, peningkatan kualitas SDM, atau pengembangan usaha.
Menurut Robi, pemerintah perlu membuka informasi mengenai syarat bagi perusahaan lokal yang ingin mendapatkan investasi dari Danantara.
