Unilever Integrasikan Aspek Keberlanjutan ke Seluruh Proses Bisnis

Septiani Teberlina
Oleh Septiani Teberlina - Tim Publikasi Katadata
18 September 2026, 10:36
Head of Communication, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana Darus (tengah) memaparkan strategi mengintegrasikan keberlanjutan ke seluruh proses bisnis dalam sesi "Growing with Purpose: Business Leadership for Sustainable Impact
Katadata
Head of Communication, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana Darus (tengah) memaparkan strategi mengintegrasikan keberlanjutan ke seluruh proses bisnis dalam sesi "Growing with Purpose: Business Leadership for Sustainable Impact" di Katadata SAFE 2026, Kamis (17/9/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Keberlanjutan tidak cukup dijalankan sebagai program tanggung jawab sosial perusahaan. Agar berdampak dan bertahan dalam jangka panjang, prinsip tersebut perlu masuk ke seluruh proses bisnis, mulai dari pemilihan bahan baku hingga pengelolaan kemasan setelah digunakan konsumen.

Director of Communication, Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia Nurdiana Darus mengatakan, komitmen keberlanjutan perusahaan telah berjalan selama lebih dari dua dekade dan kini memasuki fase ketiga. Pada tahap ini, keberlanjutan tidak lagi menjadi agenda terpisah.

“Yang berbeda pada fase ketiga ini adalah bagaimana kami mengintegrasikan dan melekatkan keberlanjutan ke dalam proses bisnis,” kata Nurdiana pada sesi diskusi Growing with Purpose: Business Leadership for Sustainable Impact di acara Katadata  SAFE 2026, Kamis (17/09/26).

Penerapan keberlanjutan dimulai dari pemilihan bahan baku. Sejak 2010, Unilever menjalankan komitmen pengadaan berkelanjutan atau sustainable sourcing untuk menelusuri asal bahan yang digunakan.

“Kami mengetahui bahan-bahan yang digunakan berasal dari mana. Dengan begitu, kami dapat memantau apakah bahan tersebut diperoleh dari sumber yang baik bagi manusia dan lingkungan,” ujarnya.

Prinsip yang sama diterapkan pada proses produksi melalui standar operasional dan penjaminan mutu untuk menjaga keamanan serta kualitas produk. Pada tahap pengemasan, Unilever menjalankan empat komitmen terkait plastik.

Komitmen itu mencakup pengurangan penggunaan plastik baru atau virgin plastic; peningkatan material daur ulang dalam kemasan; serta pengembangan kemasan yang dapat didaur ulang, digunakan kembali, atau terurai secara hayati. Perusahaan juga berkomitmen mengumpulkan dan memproses sampah plastik melebihi jumlah plastik yang digunakan.

“Komitmen ini datang dari tingkat global dan diterapkan di semua pasar, termasuk Indonesia,” kata Nurdiana. Indonesia merupakan salah satu dari lima pasar terbesar Unilever secara global.

Perusahaan juga menargetkan emisi nol bersih pada 2039. Target tersebut diterjemahkan ke dalam operasional pabrik dan menjadi bagian dari pertanggungjawaban pimpinan tertinggi perusahaan.

Selain membenahi proses internal, Unilever bekerja sama dengan delapan organisasi non pemerintah di sejumlah daerah untuk menangani sampah plastik. Kolaborasi yang dimulai sejak 2008 itu telah mendukung sekitar 5.000 bank sampah dan 2.900 stasiun isi ulang di bank sampah maupun lokasi strategis lainnya.

Unilever kemudian memperluas kolaborasi tersebut dengan mendorong organisasi lingkungan menjadi pelaku usaha yang mandiri. Pada 2024, perusahaan membantu memperkuat kapasitas dua organisasi mitra melalui dukungan Foreign, Commonwealth and Development Office Pemerintah Inggris serta kolaborasi dengan Ernst & Young, GIZ, dan Kementerian Lingkungan Hidup.

“Kami membantu meningkatkan kapasitas mereka agar dapat bertransformasi menjadi wirausaha sosial dan membangun bisnis yang menguntungkan,” kata Nurdiana.

Kini, lima dari delapan organisasi mitra telah berkembang menjadi wirausaha sosial. Menurut Nurdiana, para penggerak di lapangan perlu memperoleh kesempatan menjadi pelaku bisnis karena telah memiliki pengalaman dan pemahaman yang mendalam terhadap persoalan lingkungan.

Transformasi tersebut juga membantu organisasi menjaga kegiatannya tanpa terus bergantung pada hibah. Ketika pengelolaan sampah memiliki model usaha yang layak, dampak lingkungan dan manfaat ekonominya dapat berjalan beriringan.

“Keberlanjutan tidak bisa hanya berada di level CSR. Prinsip tersebut harus diintegrasikan dan masuk ke dalam bisnis,” ujar Nurdiana.

Sebagai forum tahunan yang telah diselenggarakan sejak 2020, Katadata SAFE menjadi ruang bagi pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, dan masyarakat untuk bertemu dan membahas berbagai tantangan serta peluang menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Memasuki tahun ketujuh penyelenggaraannya, Katadata SAFE 2026 mengusung tema The Green Changer dan berlangsung pada 16–17 September 2026 di Sudirman Hall, Sequis Tower, SCBD Jakarta. Melalui rangkaian forum, lokakarya, pameran interaktif, serta kolaborasi lintas sektor, SAFE mendorong pertukaran gagasan dan aksi nyata untuk memperkuat ekonomi Indonesia yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...