Transisi energi di Indonesia dinilai bukan hanya soal energi terbarukan, tetapi lebih pada arah dan model pengelolaannya sebagai peluang ekonomi dan solusi iklim.
Buku terbaru Patrycja Chodnicka-Jaworska mengkritik kualitas data ESG, yang menjadi dasar triliunan dolar investasi meski banyak investor meragukannya.
Dayabumi Energi menerapkan metode "live installation with zero shutdown" di mana proses instalasi PLTS atap dilakukan tanpa menghentikan aktivitas produksi.
Pengendalian emisi mulai diintegrasikan ke dalam strategi Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan, tidak lagi hanya sebagai kewajiban kepatuhan.
Hari Bumi 2026 mengingatkan dunia bisnis bahwa ESG bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab dan kebutuhan untuk keberlanjutan perusahaan di masa depan.
Banyak perusahaan, termasuk di sektor energi, telah memiliki laporan ESG yang komprehensif namun masih bingung menentukan langkah aksi nyata dan strategis berikutnya.
WIKA Tirta Jaya Jatiluhur menjadikan ESG sebagai strategi bisnis utama, yang terbukti dengan raihan peringkat lima besar dunia dari S&P Global untuk sektor air dan ketahanan di industri infrastruktur.
Penerapan ESG di Indonesia dinilai masih seperti fatamorgana akibat asimetri informasi kronis dan data keberlanjutan yang tidak material, menghambat keputusan investasi.
Pertamina meraih peringkat teratas ESG dari Sustainalytics dengan skor 23,1, mengungguli 56 perusahaan sejenis dalam pengelolaan risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Skor ESG Pertamina terus membaik dengan penurunan risiko versi Sustainalytics. Capaian ini mengukuhkan Pertamina sebagai peringkat satu dunia sub industri integrated oil and gas.