Produsen Rokok ESSE Gelontorkan Rp 8,1 Triliun Bangun 2 Pabrik, Utamakan Ekspor
Produsen rokok ESSE, Korea Tomorrow, & Global (KT&G) telah membangun dua pabrik rokok baru di Pasuruan, Jawa Timur. Kedua pabrik yang baru diresmikan ini diberi nama pabrik 2 dan pabrik 3.
Pabrik yang berada di kawasan industri Pasuruan Industri Estate Rembang (PIER) ini secara akumulasi dapat memproduksi 21 miliar batang rokok per tahun. Managing Director of KT&G Indonesia Factories Kim Young Joo mengatakan perusahaan telah menggelontorkan investasi senilai Rp 8,1 triliun untuk membangun dua pabrik tersebut.
“Kami bangun (dua) pabrik baru ini hampir semuanya untuk produk ekspor. Sebab, pabrik (eksisting) yang sudah ada itu diperuntukkan untuk pasar domestik,” kata Young Joo saat ditemui usai acara peresmian pabrik di PIER Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (6/10).
Perusahaan menyampaikan produksi rokok dari pabrik ini akan menjangkau lebih dari 90 negara di seluruh dunia, tak hanya diekspor ke kawasan Asia Tenggara tetapi juga ke Taiwan, Mongolia, Nigeria, hingga India.
Lebih lanjut, Young Joo menjelaskan pabrik 2 merupakan fasilitas produksi untuk produk jadi rokok, bahan baku, serta produk setengah jadi yang dilengkapi dengan proses manufaktur terkini. Sementara itu pabrik 3 merupakan fasilitas produksi kapsul aroma yang kapsul aroma yang kapsulnya akan dipasok pabrik-pabrik KT&G di seluruh dunia.
Dia menyebut sebanyak 13 unit fasilitas produksi telah dibangun di kedua pabrik ini dengan tambahan kapasitas produksi sebesar 21 miliar batang per tahun. Jika dijumlahkan dengan kapasitas pabrik eksisting (pabrik 1), maka total kapasitas produksi perusahaan di Indonesia kini mencapai 35 miliar batang per tahun. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai basis produksi luar negeri terbesar KT&G.
“Kami sudah memiliki hampir 52 merek, produk yang dihasilkan dari pabrik 1 merupakan rokok ESSE Juara. Untuk pabrik 2 dan 3 biasanya untuk produk ekspor ESSE, Bohem, dan Carnival,” ujarnya.
Dia menyebut hingga saat ini komposisi bahan baku rokok yang dihasilkan KT&G masih terdiri atas 50% bahan lokal dan 50%nya impor. Kendati demikian, perusahaan akan berupaya kedepannya agar seluruh bahan baku yang digunakan berasal dari pasokan lokal.
Dalam kesempatan tersebut Young Joo juga turut menjelaskan lini masa pembangunan dua pabrik baru ini. Dia menyebut cikal bakal berdirinya pabrik ini bermula dari perjanjian investasi antara perusahaan dan Pemerintah Indonesia pada September 2023.
Pembangunan pabrik baru mulai dilakukan di atas tanah seluas 190 ribu meter persegi sejak April 2024. Usai melewati 20 bulan, proses pembangunan pabrik telah selesai pada November 2025.
“Sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, dan pada tahun ini kami mulai memasuki tahap operasi komersial,” ucapnya.
Meski cepat, dia menyebut perusahaan tetap mengutamakan aspek keselamatan dan kualitas. Seluruh peralatan dan proses produksi yang digunakan saat ini telah melalui proses verifikasi berdasarkan standar kualitas global yang diterapkan di pabrik-pabrik KT&G di Korea.
Kedua pabrik sebetulnya telah memulai operasi komersial pada paruh pertama tahun ini. Saat ini, fasilitas produksi tersebut telah mempekerjakan 459 orang lokal.
