Kulkas - Sepatu Wajib Sertifikat Halal, Hippindo Nilai Kebijakan Persulit Ritel
Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) menilai kewajiban sertifikat halal untuk produk nonmakanan atau barang gunaan berpotensi menambah kesulitan bagi peritel dalam menjalankan usaha dan membuka gerai baru.
Ketua Umum HIPPINDO Budiharjo Iduansjah mengatakan pelaku usaha menghadapi semakin banyak regulasi yang harus dipenuhi, termasuk regulasi wajib halal yang akan berlaku pada 18 Oktober mendatang.
Kewajiban halal ini menyasar seluruh produk yang akan diperdagangkan di Indonesia, bukan hanya produk makanan, tetapi juga produk pakai.
Menurut Budi, kewajiban sertifikasi halal untuk barang gunaan, seperti sepatu, ikat pinggang, dompet, hingga tisu, menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme pemeriksaan dan pemenuhan persyaratannya.
Ia menegaskan bahwa HIPPINDO mendukung kewajiban sertifikasi halal untuk produk makanan. Namun, ia meminta pemerintah mempertimbangkan kembali penerapan kewajiban tersebut untuk produk nonmakanan.
“Kalau makanan halal saya setuju. Tapi kalau nonmakanan wajib, bukan sukarela, itu kami minta untuk dipertimbangkan,” kata Budiharjo ditemui di gelaran acara Trade Expo Indonesia di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Kamis (15/10).
Pelaku usaha masih menghadapi kesulitan untuk memastikan status halal sejumlah barang gunaan, terutama produk yang menggunakan bahan kulit dan pewarna. Peritel juga perlu memastikan bagaimana persyaratan tersebut harus dipenuhi untuk berbagai jenis produk yang dijual.
Ia mencontohkan sepatu kulit, ikat pinggang, dan dompet yang bahan pembuatannya perlu diperiksa untuk memastikan pemenuhan ketentuan halal.
Budiharjo menilai ketidakjelasan mengenai pelaksanaan aturan tersebut dapat membuat pelaku usaha lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis. Kondisi ini berpotensi memperlambat ekspansi usaha, termasuk rencana pembukaan toko baru.
“Halal ini membuat orang berbisnis yang tadinya gampang dan cepat, jadinya takut dan susah. Ini akan mengerem ekonomi,” ujarnya.
