Pabrik Kelapa Sawit di Kalimantan Kebakaran, Siapa Pemiliknya?
PT Palma Serasih Tbk (PSGO) mengatakan insiden itu terjadi di anak usahanya PT Nusaraya Agro Sawit (NASA).
PT Nusaraya Agro Sawit (NAS) berlokasi di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng (berbatasan langsung dengan Kecamatan Muara Wahau), Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Direktur dan Sekretaris Palma Serasih, Astrida Niovita Bachtiar mengatakan saat ini tak ada korban jiwa dan dampak kerusakan akibat kejadian itu. Perusahaan juga memastikan kegiayan operasional perkebunan tetap berjalan norma.
“NUSA tetap berjalan normal dengan mengoptimalkan kapasitas olah PKS entitas anak perusahaan lainnya, sehingga target kinerja tetap dapat tercapai,” ucap Astrida dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Rabu (21/10).
Astrida juga mengatakan perusahaan dan NUSA berkomitmen untuk bertanggung jawab dan tetap mengutamakan aspek keselamatan. Saat ini perusahaan tengah menghitung besaran kerugian atas kejadian tersebut.
Berdasarkan laporan tahunan 2025, perusahaan mengelola lahan inti seluas 20.300 hektare dan lahan plasma 7.700 hektare. Total area tertanam mencapai 28.000 hektare, dengan 99% berupa tanaman menghasilkan dan 1% tanaman belum menghasilkan.
Sepanjang 2025, perusahaan memproduksi 480.800 ton tandan buah segar (TBS) dari kebun inti dan plasma. Pabriknya menghasilkan 140.200 ton minyak kelapa sawit (MKS) dan 21.600 ton inti kelapa sawit (IKS).
Untuk 2026, manajemen perusahaan menilai prospek industri kelapa sawit tetap positif di tengah ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina dan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu rantai pasok global serta mendorong kenaikan harga energi. Kondisi ini dapat mendorong pemerintah menerapkan mandatori biodiesel B45 atau B50 untuk mengantisipasi krisis energi.
Di sisi lain, perusahaan menilai pertumbuhan pasokan minyak kelapa sawit berpotensi tertekan oleh realisasi peremajaan sawit yang masih di bawah target, perubahan iklim, keterbatasan tenaga kerja, usia tanaman yang semakin tua, serta persoalan legalitas lahan.
Perusahaan juga menghadapi tantangan ekspansi akibat keterbatasan lahan dan pengetatan regulasi pemerintah. Selain itu, ketegangan geopolitik, perang tarif, serta penerapan standar keberlanjutan yang lebih ketat berpotensi meningkatkan biaya operasional dan kepatuhan.
Apabila menilik struktur kepemilikannya, perusahaan ini berada di bawah kendali Sohat Chairil dengan kepemilikan manfaat akhir (ultimate beneficial owner/UBO) sebesar 78%. Kepemilikan tersebut terdiri atas 43% melalui PT Jalinankasih Sesama dan 35% melalui PT Serasih Holdico.
