Pupuk Indonesia Bangun Dua Pabrik Soda Ash, Bidik Pangkas Impor 60%

Nur Hana Putri Nabila
2 November 2026, 08:27
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi (ketiga dari kanan) bersama dalam agenda seremoni groundbreaking pabrik soda ash di Bontang, Kalimantan Timur, Jumat (31/10/2025).
ANTARA/Muhammad Baqir Idrus Alatas
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi (ketiga dari kanan) bersama dalam agenda seremoni groundbreaking pabrik soda ash di Bontang, Kalimantan Timur, Jumat (31/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Pupuk Indonesia (Persero) menggarap bisnis soda ash dan amonium klorida  dengan membangun dua pabrik di Gresik, Jawa Timur, dan Bontang, Kalimantan Timur. Manuver ini dilakukan di tengah ketergantungan Indonesia terhadap impor soda ash yang mencapai 1,05 juta ton pada 2025 dengan nilai US$ 225 juta atau sekitar Rp 4,08 triliun.

Lewat anak usahanya, PT Petrokimia Gresik dan PT Rekayasa Industri (Rekind) menandatangani kontrak Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) untuk proyek soda ash dan amonium klorida. Ini merupakan proyek Soda Ash kedua di tangan Pupuk Indonesia Group demi memperkuat rantai pasok bahan baku industri dan pupuk nasional. 

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan hilirisasi menjadi jalan untuk memperkuat kemampuan industri dalam negeri. Adapun pada 2025, Indonesia masih impor sekitar 1,05 juta ton senilai US$ 225 juta. Dengan kapasitas produksi yang direncanakan mencapai 300.000 ton per tahun, pabrik Soda Ash Petrokimia Gresik berpotensi menggantikan sekitar 29% volume impor tersebut, dengan estimasi penghematan devisa Rp 1,4 triliun per tahun.

“Melalui hilirisasi, kami memperluas kemampuan Indonesia menghasilkan bahan baku industri, mengurangi ketergantungan impor, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Rahmad dalam keterangannya, dikutip Senin (2/11). 

Selain Soda Ash, proyek ini juga akan menghasilkan Amonium Klorida dengan kapasitas 300.000 ton per tahun yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi pupuk NPK. Pemanfaatan produk itu diharapkan memperkuat integrasi rantai pasok industri kimia sekaligus mendukung ketahanan bahan baku pupuk nasional.

Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik merupakan bagian dari agenda industrialisasi Pupuk Indonesia melalui pembangunan dan revitalisasi 8 pabrik dalam 5 tahun ke depan. Sebagai proyek Soda Ash kedua Pupuk Indonesia Group, pengembangan ini juga memperkuat langkah hilirisasi dan diversifikasi produk kimia bernilai tambah untuk memperkuat kapasitas industri nasional.

“Pupuk Indonesia mengemban dua mandat strategis yang saling memperkuat, yaitu menjaga ketahanan pangan dan membangun kedaulatan industri nasional. Kedua mandat ini menjadi arah bagi setiap investasi, inovasi, dan langkah transformasi yang kami jalankan,” ujar Rahmad.

 Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida Petrokimia Gresik dirancang memanfaatkan sekitar 174.000 ton karbon dioksida (CO2) per tahun dari proses produksi pupuk. Pemanfaatan CO2 dalam rantai produksi Soda Ash ini menghubungkan kegiatan produksi pupuk dengan pengembangan produk kimia bernilai tambah. Sekaligus menjadi bagian dari arah transformasi hijau Pupuk Indonesia melalui dekarbonisasi bertahap menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.

“Melalui Proyek Soda Ash dan Amonium Klorida ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi dapat dikembangkan menjadi kemampuan industri, dan teknologi rendah karbon dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang nyata,” tambah Rahmad.

Petrokimia Gresik juga telah menguji teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon atau Carbon Capture and Utilization (CCU) melalui fasilitas pilot plant. Pengujian untuk mengolah CO2 dari proses industri menjadi Soda Ash ini mencatat efisiensi penangkapan CO2 sebesar 91,48% hingga 97,79%. Hal itu menunjukkan potensi efektivitas teknologi CCU dalam pemanfaatan karbon sebagai bahan baku produk kimia bernilai tambah.

Selain di Petrokimia Gresik, Pupuk Indonesia juga tengah membangun pabrik Soda Ash melalui Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) di Bontang, Kalimantan Timur. Kedua proyek itu dirancang memiliki kapasitas produksi gabungan sebesar 600.000 ton Soda Ash per tahun, atau setara dengan sekitar 60% volume impor Soda Ash nasional. 

Ketika beroperasi penuh, kata Rahmad, kedua pabrik tersebut berpotensi mengurangi ketergantungan impor dengan estimasi penghematan devisa sekitar Rp2 triliun per tahun.

“Momentum ini menjadi kesempatan bagi Pupuk Indonesia untuk menunjukkan industri pupuk mampu menjadi penggerak transformasi industri nasional melalui penguatan pasokan bagi pertanian, perluasan hilirisasi, dan pengembangan industri rendah karbon yang berdaya saing,” ujar Rahmad.




add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...