Ancang-Ancang Pupuk Indonesia Jegal Dominasi Amonia Singapura Lewat Batam

Nur Hana Putri Nabila
4 November 2026, 14:14
Pupuk Indonesia
ANTARA FOTO/ Andri Saputra/bar
Seorang petani memupuk tanaman padinya menggunakan pupuk subsidi jenis urea bercampur phonska di area persawahan Desa Pancaitana, Kecamatan Salomekko, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Rabu (4/2/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki pembangunan Ammonia Hub di Batam untuk meningkatkan nilai tambah gas alam melalui pengembangan industri petrokimia dan hilirisasi. Perusahaan berencana memanfaatkan pasokan gas dari Natuna dan Grissik, terutama jika kontrak penjualan gas antara Indonesia dan Singapura berakhir pada 2028.

Geliat ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang mendorong optimalisasi pengelolaan kekayaan alam agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi Indonesia.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, perusahaan mengambil peran aktif dalam mengamankan kebijakan itu melalui pembangunan industri yang mampu menyerap dan mengolah sumber daya alam di dalam negeri. Dengan langkah ini, Pupuk Indonesia tidak hanya mendukung agenda pemerintah, tetapi juga mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

“Pupuk Indonesia ini adalah perusahaan yang menggunakan gas alam sebagai bahan bakunya untuk memproduksi salah satunya ammonia yang sangat-sangat besar,” ucap Rahmad Pribadi dalam keterangannya, dikutip Rabu (4/11). 

Menurut Rahmad, rencana pembangunan Ammonia Hub di Batam juga berangkat dari keberhasilan Singapura membangun industri pengolahan minyak dan layanan maritim selama lebih dari lima dekade. 

Ia menyebut negara tetangga itu kini menjadi salah satu kekuatan ekonomi di sektor tersebut dan berkembang sebagai pusat bunkering terbesar di dunia, yakni layanan pengisian bahan bakar bagi kapal yang melintasi jalur pelayaran internasional.

Namun, pergeseran industri pelayaran global menuju penggunaan bahan bakar rendah karbon membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri yang sama. Rahmad menyebut Indonesia dapat memanfaatkan potensi gas alam untuk membangun Ammonia Hub sekaligus layanan bunkering demi memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal kedepannya.

Peluang tersebut semakin terbuka seiring kebijakan International Maritime Organization (IMO) melalui IMO Net-Zero Framework yang mendorong penggunaan berbagai alternatif bahan bakar rendah dan nol emisi, termasuk amonia, untuk industri maritim.

Rahmad menilai perkembangan itu menjadi peluang strategis yang perlu diantisipasi sejak dini. Menurutnya, Pupuk Indonesia memiliki modal industri untuk mengambil peluang tersebut. 

Adapun Perusahaan saat ini memiliki kapasitas produksi amonia sekitar 7,1 juta ton per tahun sehingga menjadi salah satu produsen amonia berskala besar di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara (Middle East and North Africa/MENA), dan Asia Pasifik.

Melalui pembangunan Ammonia Hub di Batam, Pupuk Indonesia berharap dapat mengoptimalkan pemanfaatan gas alam untuk mengembangkan industri hilir. Fasilitas ini juga ditargetkan menjadi infrastruktur pendukung produksi, penyimpanan, distribusi, hingga perdagangan amonia untuk memenuhi pasar domestik dan internasional.

“Apa yang kami lakukan ini adalah bentuk dari kontribusi kita untuk Indonesia, ini bukan resource nationalism, tapi resource industrialization, artinya hilirisasi. Kenapa ini bukan nasionalisme dari sumber daya alam? Karena kami juga membuka peluang untuk bekerja sama dengan siapa saja. Yang kami inginkan nilai tambahnya ada di dalam negeri. Jadi itu sekali lagi, this is not resource nationalism, this is resource industrialization,” ucap Rahmad.

Sejalan dengan itu, Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis mendukung nisiatif dari Pupuk Indonesia. Djemy menegaskan BP Batam akan memberikan kemudahan perizinan untuk membangun Ammonia Hub di Batam. Hal itu juga sejalan arahan Presiden Prabowo yang ingin menjadikan Batam sebagai role model pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan potensi.

“Yang paling penting adalah tadi kalau sudah masuk dalam ready to invest BP Batam akan membentuk tim bersama dengan teman-teman di Pupuk Indonesia,” ujar Fary Djemy.

Adapun sejumlah negara mulai mempersiapkan infrastruktur dan ekosistem untuk mendukung pemanfaatan ammonia sebagai bahan bakar kapal. Di kawasan Asia Pasifik, Australia, Singapura, dan Korea Selatan termasuk negara yang mulai mengembangkan berbagai inisiatif terkait kesiapan teknologi dan fasilitas ammonia bunkering.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...