Pembicaraan di Telepon Bocor, PM Thailand Didesak Mundur
Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra didesak mundur usai pembicaraannya dengan mantan PM Kamboja Hun Sen bocor dan beredar. Rekaman berdurasi 17 menit itu memicu gelombang politik.
Dalam percakapan telepon Paetongtarn dengan Hun Sen pada 15 Juni lalu, mereka membicarakan sengketa perbatasan antara Thailand-Kamboja. Kedua negara bersitegang hingga berujung pada tewasnya seorang tentara Kamboja pada 28 Mei 2025.
Kedua negara belum menemukan titik terang mengenai sengketa perbatasan itu. Kamboja memilih untuk menempuh jalur Mahkamah Internasional tanpa persetujuan Thailand.
Pembicaraan di telepon itu direkam oleh Hun Sen. Ia mengaku merekam dan membagikannya ke 80 penjabat Kamboja sebagai bentuk transparansi. Lewat unggahan di Facebook-nya, Hun Sen yang kini menjabat sebagai Presiden Senat Kamboja mengatakan rekaman diperlukan untuk menghindari salah tafsir.
Dalam percakapan di telepon, ucapan Paetongtarn terkesan menyalahkan militer Thiland yang memicu kemarahan kalangan nasionalis dan pro-militer Thailand.
Mengetahui percakapannya dengan Hun Sen bocor, Paetongtarn meminta maaf. Kementerian Luar Negeri Thailand jugamemanggil duta besar Kamboja untuk menyampaikan keberatan.
"Saya ingin meminta maaf atas bocornya rekaman percakapan saya dengan seorang pemimpin Kamboja yang telah menimbulkan kemarahan publik," kata Paetongtarn pada Kamis (19/6) dikutip dari Channel News Asia.
Dalam riwayatnya, militer Thailand tercatat memiliki sejarah intervensi dalam politik. Hal itu membuat politisi di sana biasanya lebih hati-hati dan tak menentang kaum pro-militer yang sangat vokal.
Di sisi lain, riwayat hubungan keluarga Paetongtarn dengan militer tercatat sangat sensitif. Ayahnya, Thaksin Shinawatra, serta bibinya, Yingluck Shinawatra telah digulingkan militer dari kursi Perdana Menteri. Sejalan dengan sejarah tersebut, muncul rumor akan terjadi kudeta selanjutnya.
Hal lain yang memicu gejolak karena Paetongtarn menyebut Hun Sen dengan 'paman'. Di Thailand. panggilan ini digunakan ketika berbicara dengan orang tua. Namun, dalam negosiasi, Paetongtarn dinilai terlalu akrab dengan Kamboja.
Buntut hal ini, koalisi pemerintahan pun pecah. Partai konservatif Bhumjaithai sebagai mitra terbesar mengundurkan diri pada Rabu (18/6). Meski begitu, koalisi masih menjadi mayoritas di DPR dengan 261 anggota parlemen, sedangkan oposisi berjumlah 234 anggota parlemen.
Dua partai koalisi lainnya yakni Partai Bangsa Thailand Bersatu (UTN) dan Partai Demokrat, akan bertemu untuk membahas krisis politik yang tengah terjadi. Nasib pemerintahan Paetongtarn bergantung pada dua partai ini.
