Para Pemimpin Boomer Pemicu Gejolak Dunia: Trump, Xi, Putin, hingga Netanyahu

Muhamad Fajar Riyandanu
13 Januari 2026, 06:00
trump, putin, xi jinping, netanyahu
ANTARA FOTO/Sputnik/Aleksey Druzhinin/Kremlin via REUTERS/AWW/djo
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Cina Xi Jinping.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah pemimpin dunia yang lahir pada era baby boomer menjadi sorotan lantaran gaya kepemimpinan mereka yang kontroversial. Sosok tersebut, antara lain Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Presiden Cina Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Mereka kerap disebut sebagai figur yang memicu ketegangan global dan tantangan diplomatik di kawasan. Kolumnis New York Times Thomas Friedman berpendapat, kombinasi kebijakan domestik yang agresif dan pendekatan konfrontatif terhadap isu global membuat Trump, Xi Jinping, Putin, dan Netanyahu menjadi pemimpin yang bermasalah bagi perdamaian dan kerja sama internasional.

Thomas Friedman menyampaikan kritik terhadap rencana Trump untuk mencaplok kawasan Greenland. Ia menekankan tindakan semacam itu berpotensi memicu ketegangan global. “Anda pikir hanya dengan mengambil Greenland tidak akan berpengaruh pada yang lain? Mungkin Putin kemudian akan mengambil sebagian wilayah negara-negara Baltik. Apakah itu dunia yang Anda inginkan?” ujarnya.

Berikut ulasan singkat Friedman untuk masing-masing tokoh:

Donald Trump

Trump dinilai kerap mengambil keputusan luar negeri yang memicu kontroversi, seperti operasi militer di Venezuela dan kritik terhadap perjanjian internasional. Hubungan AS dengan Cina, Iran, dan aliansi militer dan politik North Atlantic Treaty Organization (NATO) cenderung menjadi lebih tegang selama masa kepemimpinannya.

Politisi Partai Republik yang lahir pada tahun 1946 ini dipandang kerap menempuh kebijakan agresif dan berpotensi melanggar prinsip kedaulatan negara lain. Analis politik menilai, penculikan Nicolas Maduro dari Venezuela oleh AS merupakan serangan yang tidak hanya mengabaikan hukum internasional, tetapi juga melampaui batas politik dalam negeri Amerika Serikat.

Profesor Kebijakan Publik dari Universitas Hamad Bin Khalifa Qatar Sultan Barakat menganggap, aksi yang dilakukan oleh Trump berisiko menormalisasi tindakan serupa oleh kekuatan lain di dunia.

“Donald Trump mengabaikan hukum internasional. Dia mengabaikan hukum Venezuela,  dan dia tampaknya tidak peduli dengan apa yang sebenarnya dipikirkan atau diinginkan oleh rakyat Venezuela," kata Barakat, mengutip pemberitakaan Al Jazeera pada Senin (5/1).

Benjamin Netanyahu

Pensiunan pasukan komando khusus Angkatan Pertahanan Israel alias Israel Defense Forces (IDF) ini merupakan salah satu tokoh politik paling lama berkuasa dan kontroversial di negaranya.

Kebijakan agresif terhadap Palestina, konflik di Gaza, serta dorongan untuk melemahkan independensi peradilan memicu kritik domestik dan internasional. Pria yang lahir pada 1949 ini merupakan pimpinan partai politik sayap kanan di Israel.

Melansir pemberitaan Arab News pada 27 Februari 2025, Komisaris Tinggi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Volker Tukr menuduh Israel mengabaikan hak asasi manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam aksi militernya di Gaza.

“Tidak ada yang membenarkan cara mengerikan yang dilakukan Israel dalam melakukan operasi militernya di Gaza yang secara konsisten melanggar hukum internasional,” kata Volker Turk, saat menyampaikan laporan baru tentang situasi hak asasi manusia di Gaza kepada Dewan HAM di Jenewa.

Vladimir Putin

Vladimir Putin memimpin invasi Rusia ke Ukraina yang memicu sanksi internasional, krisis energi, dan konflik berkepanjangan di Eropa.

Presiden Rusia kelahiran 1952 itu juga merupakan sosok yang masuk dalam daftar pencarian Mahkamah Pengadilan Internasional atau International Criminal Court (ICC). ICC merilis surat perintah penangkapan terhadap Putin terkait dugaan kejahatan dugaan kejahatan perang.

Putin diduga bertanggung jawab atas kejahatan perang, termasuk deportasi dan pemindahan penduduk, terutama anak-anak, secara tidak sah dari wilayah Ukraina yang diduduki ke Federasi Rusia. Dugaan pelanggaran ini disinyalir terjadi di wilayah Ukraina yang diduduki sejak 24 Februari 2022.

Xi Jinping

Xi Jinping telah memperkuat kontrol Partai Komunis dan menghapus batas masa jabatan presiden di Cina pada 2018 lalu. Xi lahir pada 15 Juni 1953 di Beijing, Cina. Ia merupakan putra dari Xi Zhongxun, seorang veteran revolusi dan tokoh penting Partai Komunis Cina (PKC).

Xi bergabung dengan PKC pada tahun 1974 dan menapaki karier politik dari tingkat lokal hingga nasional, termasuk menjabat sebagai gubernur dan sekretaris partai di berbagai provinsi. Kebijakan luar negeri Xi di Laut China Selatan dan sikap tegas terhadap Taiwan dinilai dapat memicu kekhawatiran geopolitik global.

Mengutip Al Jazeera, militer Cina pada  melangsungkan latihan tembak di sekitar Taiwan pada akhir Desember lalu. Cina mengerahkan pasukan udara, angkatan laut, dan roket untuk simulasi perang. Latihan ini bertujuan untuk menguji kesiapan tempur dan memberikan peringatan tegas terhadap kelompok separatis serta campur tangan kekuatan eksternal.

Pihak berwenang Taiwan mendeteksi 14 kapal perang Cina, 14 kapal penjaga pantai, dan 89 pesawat, dengan 67 pesawat memasuki zona respons Taiwan. Latihan itu membuat Taiwan menggerakkan pasukan dan peralatan militer untuk berlatih menangkis kemungkinan serangan.

Selain itu, latihan tersebut memaksa pengalihan rute penerbangan komersial, sehingga lebih dari 100 ribu penumpang internasional dan sekitar 6.000 penumpang domestik terdampak.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...