Rusia dan Cina Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Desak Penghentian Perang

Muhamad Fajar Riyandanu
2 Maret 2026, 14:18
Masyarakat Iran berkumpul di Lapangan Enghelab, pada Minggu (1/3), setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terbunuh dalam serangan Israel dan AS pada hari Sabtu (28/2), di Teheran, Iran.
Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS
Masyarakat Iran berkumpul di Lapangan Enghelab, pada Minggu (1/3), setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terbunuh dalam serangan Israel dan AS pada hari Sabtu (28/2), di Teheran, Iran.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah Rusia dan Cina mengecam keras serangan militer yang dilancarkan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang berujung pada tewasnya Ayatollah Ali Khamenei. Konflik bersenjata diharapkan dapat segara dihentikan.

Meski mengutuk serangan AS dan Israel kepada Iran, Rusia dan Cina sejauh ini belum secara tegas berkomitmen untuk mengerahkan dukungan militer secara langsung kepada Iran.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, menilai langkah AS dan Israel sebagai tindakan brutal yang melanggar prinsip moral kemanusiaan serta hukum internasional. Melansir pemberitaan Kantor Berita Pemerintah Rusia, TASS, Putin menyampaikan belasungkawa mendalam atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ali Khamenei beserta anggota keluarganya.

“Mohon terima belasungkawa terdalam saya atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Seyyed Ali Khamenei, dan anggota keluarganya," kata Putin dalam telegram yang ditujukan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

“Saya meminta Anda untuk menyampaikan simpati dan dukungan tulus saya kepada keluarga dan sahabat Pemimpin Tertinggi, kepada pemerintah, serta seluruh rakyat Iran,” ujar Putin pada Ahad (1/3).

Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, menilai serangan AS dan Israel terhadap Iran di tengah berlangsungnya perundingan nuklir antara Teheran dan Washington merupakan tindakan yang tidak dapat diterima.

Ia juga mengecam keras pembunuhan secara terbuka terhadap pemimpin negara berdaulat serta segala upaya untuk memaksakan perubahan pemerintahan. Menurut Wang, langkah tersebut melanggar hukum internasional dan norma dasar dalam hubungan antarnegara.

Ia menambahkan, eskalasi yang terjadi kini telah merembet ke kawasan Teluk Persia dan berisiko menyeret Timur Tengah ke situasi yang semakin berbahaya. Pemerintah Cina, kata dia, memandang perkembangan ini dengan keprihatinan mendalam.

Anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis Cina ini berpendapat bahwa eskalasi konflik telah meluas ke kawasan Teluk Persia berpotensi mendorong Timur Tengah ke jurang berbahaya.

Dalam pernyataannya yang diberitakan oleh Kantor Berita Pemerintah Cina, Xinhua, Wang Yi mengatakan sejumlah langkah mendesak yang perlu segera dilakukan. Ia menyerukan penghentian segera seluruh operasi militer guna mencegah meluasnya perang dan memastikan situasi tidak berkembang di luar kendali.

"Cina menaruh perhatian besar terhadap keamanan negara-negara Teluk dan mendukung mereka untuk menahan diri," kata Wang Yi, Ahad (1/3).

Cina juga mendorong semua pihak untuk segera kembali ke jalur dialog dan perundingan. Ia menegaskan bahwa setiap negara memiliki tanggung jawab untuk mengedepankan perdamaian dan mencegah pecahnya perang, serta mendesak pihak-pihak terkait agar kembali ke meja perundingan tanpa penundaan. "Mendesak pihak-pihak terkait untuk kembali ke meja perundingan secepatnya," ujar Wang Yi.

Wang Yi turut menyerukan penolakan bersama terhadap segala bentuk tindakan sepihak. Ia menilai serangan terhadap negara berdaulat tanpa otorisasi Dewan Keamanan PBB merupakan pelanggaran serius yang menggerus fondasi tatanan perdamaian global yang dibangun sejak berakhirnya Perang Dunia II.

"Komunitas internasional harus mengirimkan pesan tegas menentang kembalinya hukum rimba dalam hubungan internasional," ujarnya. Lebih jauh, Wang Yi mengatakan dirinya telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.

Rusia menyatakan memiliki posisi yang sejalan dengan Cina dalam menyikapi perkembangan tersebut. Moskow juga menyatakan kesiapan untuk mempererat koordinasi dan komunikasi dengan Beijing, termasuk melalui forum-forum multilateral seperti PBB dan Organisasi Kerja Sama Shanghai guna menyerukan penghentian perang segera dan mendorong kembalinya proses perundingan diplomatik.

Sejumlah pejabat tinggi Iran tewas imbas terkena serangan udara yang dioperasikan oleh pasukan gabungan AS dan Israel pada Sabtu, 28 Februari waktu setempat. Serangan tersebut antara lain menewaskan Pemimpin Agung (Ayatullah) Ali Hosseini Khamenei serta beberapa tokoh senior dalam struktur kepemimpinan Iran.

Selain itu, Menteri Pertahanan Aziz Nasirzadeh dan Komandan Garda Revolusi Islam Iran Mohammed Pakpour juga dilaporkan tewas dalam insiden tersebut. Figur senior yang pernah menduduki jabatan strategis seperti Presiden Iran 2005-2013 Mahmouh Ahmadinejad juga dilaporkan wafat akibat aksi serangan itu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...