9 WNI Ditahan Tentara Israel, termasuk 2 Jurnalis Republika

Andi M. Arief
18 Mei 2026, 19:11
Israel
Instagram/Republika Online
Jurnalis Republika, Bambang Noroyono.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Militer Israel dilaporkan mencegat dan menahan jurnalis Republika, Bambang Noroyono alias Abeng, yang mengikuti pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026 hari ini, Senin (18/5).

Abeng telah meminta pemerintah untuk membantu membebaskannya dari penahanan zionis saat berlayar menuju Gaza, Palestina. Hal tersebut disampaikan melalui video SOS yang menjadi prosedur dalam pelayaran misi kemanusiaan tersebut.

"Saya mohon agar Pemerintah Indonesia membebaskan saya dari penculikan tentara penjajah zionis Israel dan meminta pemerintah untuk tetap terus selalu mendukung kemerdekaan Palestina," kata Abeng dalam unggahan akun resmi Instagram Republika, Senin (18/5).

Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin atau Dio mengecam pencegatan yang dilakukan militer Israel. Sebab, aksi tersebut dilakukan di atas perairan internasional yang menjadi pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Di samping itu, Dio menilai militer Israel telah melanggar prinsip kemanusiaan universal. Sebab, aksi pelayaran kemanusiaan tersebut membawa obat-obatan dan bantuan logistik untuk rakyat Gaza, Palestina.

"Dalam rombongan terdapat sembilan relawan asal Indonesia, termasuk dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai. Keselamatan mereka jadi perhatian serius kami," kata Dio dalam keterangan resmi, Senin (18/5).

IDF telah melakukan kegiatan pencegatan yang sama terhadap aksi kemanusiaan Global Sumud Flotilla tahun lalu. Saat itu, aktivis Swedia Greta Thunberg dideportasi bersama 160 aktivis lainnya ke Yunani pada 6 Oktober 2025.

Kementerian Luar Negeri Israel mengumumkan di X bahwa mereka telah mengusir total 171 aktivis dari kapal-kapal flotilla yang dicegat saat mencoba membawa bantuan ke Gaza yang diblokade. Ini menjadikan total aktivis yang dideportasi hingga Oktober 2025 menjadi 341 orang.

Israel telah mengusir total 171 aktivis dari kapal flotilla yang dicegat, menambah total deportasi menjadi 341 orang. Dari jumlah tersebut, 161 aktivis—termasuk 27 warga Yunani dan 134 warga dari 15 negara lain—tiba di Athena dengan penerbangan pada Senin, 6 Oktober.

Greta Thunberg menyatakan di bandara Athena bahwa sedang terjadi genosida terhadap warga Palestina. Dia menuding sistem internasional mengkhianati warga Palestina serta gagal mencegah kejahatan perang.

Ia menambahkan, tujuan Global Sumud Flotilla adalah bertindak ketika pemerintah di dunia gagal melakukan kewajiban hukum mereka.

Flotilla berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada awal September. Angkatan Laut Israel mencegatnya di perairan internasional saat mendekati Gaza. Polisi Israel melaporkan lebih dari 470 orang ditangkap. Sementara Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan 138 peserta flotilla masih ditahan di Israel.

“Biarkan saya menjelaskan dengan sangat jelas. Sedang terjadi genosida,” kata Thunberg kepada kerumunan orang di bandara Athena, merujuk pada aksi militer Israel di Gaza.

“Sistem internasional kita mengkhianati warga Palestina. Mereka bahkan tidak mampu mencegah kejahatan perang terburuk terjadi,” kata Thunberg, dalam komentar yang disiarkan AFP.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...