Mengenal Golden Dome Trump, Antirudal AS Dikecam Cina dan Rusia
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meluncurkan konsep sistem pertahanan rudal mutakhir bernama 'Golden Dome'. Proyek perisai pertahanan senilai US$ 175 miliar yang baru dirancang ini disebut dapat mencegat serangan rudal dari darat hingga luar angkasa.
Rencana pengembangan proyek Golden Dome menuai kritik keras dari Cina dan Rusia yang menilai langkah Washington dapat mengganggu stabilitas global.
Melansir pemberitaan Associated Press (AP), Trump menyampaikan rencana pembangunan Golden Dome dapat beroperasi sebelum masa jabatannya berakhir pada 2029. "Ini bahkan mampu mencegat rudal, bahkan jika diluncurkan dari luar angkasa," kata Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, pada Selasa (19/5) waktu setempat.
Golden Dome dirancang untuk mendeteksi dan menghentikan rudal pada empat tahap utama serangan yang mencakup sebelum peluncuran, tahap awal penerbangan, saat melintas di udara, hingga pada menit-menit akhir ketika rudal mendekati target.
AS sudah memiliki banyak kemampuan pertahanan rudal, seperti Rudal Patriot yang telah diberikan kepada Ukraina. Negeri Abang Sam juga sudah memiliki serangkaian satelit di orbit untuk mendeteksi peluncuran rudal. Beberapa sistem yang sudah ada itu akan diintegrasikan ke dalam Golden Dome.
Saat menyampaikan rencananya, Trump duduk di samping poster bergambar wilayah daratan AS berwarna emas dengan ilustrasi pencegatan rudal. Ia juga mengumumkan penunjukan Jenderal Michael Guetlein untuk mengawasi pengembangan Golden Dome. Saat ini Guetlein menjabat sebagai Vice Chief of Space Operations atau Wakil Kepala Operasi Luar Angkasa di cabang militer United States Space Force.
Meski demikian, seorang pejabat AS yang mengetahui proyek tersebut mengatakan sistem itu kemungkinan baru akan memiliki kemampuan awal pada tenggat waktu yang ditetapkan oleh Trump. Hal ini karena kompleksitas teknologi yang tengah dikembangkan dalam proyek tersebut.
Kantor Anggaran Kongres AS memperkirakan komponen luar angkasa Golden Dome dapat menelan biaya hingga US$ 542 miliar dalam 20 tahun ke depan. Trump sendiri telah mengajukan anggaran awal sebesar US$ 25 miliar melalui rancangan undang-undang pemotongan pajak yang kini sedang dibahas Kongres.
Markas Besar Kementerian Pertahanan, Pentagon, selama bertahun-tahun memperingatkan bahwa rudal terbaru yang dikembangkan Cina dan Rusia sudah sangat canggih sehingga membutuhkan sistem pertahanan baru yang lebih mutakhir.
Pemerintah AS menyebut Cina dan Rusia juga telah mengembangkan senjata ofensif di luar angkasa, termasuk satelit yang mampu melumpuhkan satelit milik AS. Karena itu, tambahan satelit dan pencegat rudal dalam Golden Dome akan difokuskan untuk menghentikan rudal-rudal canggih tersebut sejak tahap awal atau di tengah lintasan penerbangan.
Kepala United States Space Force, Jenderal Chance Saltzman, mengatakan kepada anggota parlemen bahwa senjata berbasis luar angkasa dalam proyek Golden Dome merupakan kebutuhan dan misi baru yang belum pernah dijalankan organisasi militer luar angkasa sebelumnya.
Protes Cina dan Rusia
Dalam pernyataan bersama awal bulan ini, Cina dan Rusia menyebut gagasan Golden Dome sebagai proyek yang berpotensi memperkeruh situasi keamanan global. Mereka memperingatkan bahwa program tersebut dapat mengubah luar angkasa menjadi arena penempatan senjata dan konfrontasi bersenjata.
Pernyataan bersama itu dirilis setelah pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Cina Xi Jinping di Great Hall of the People, Beijing, pada 20 Mei lalu.
Kedua pimpinan negara itu mengkritik AS karena dianggap merusak stabilitas global, terutama terkait rencana pengembangan sistem pertahanan rudal Golden Dome dan berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir pada Februari lalu.
“Agenda global mengenai perdamaian dan pembangunan menghadapi risiko dan tantangan baru, dengan ancaman fragmentasi komunitas internasional dan kecenderungan kembali pada ‘hukum rimba’,” demikian isi deklarasi bersama yang dikutip Kremlin, sebagaimana diberitakan oleh The Guardian, Rabu (20/5).
