KAI Fokus Uji Biodiesel B50, Target Turunkan Emisi 133.676 ton CO2e
PT Kereta Api Indonesia (Persero) memfokuskan pengujian teknis penggunaan bahan bakar biodiesel B50 pada performa mesin, konsumsi bahan bakar, emisi, dan ketahanan sarana. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan transisi bahan bakar dilakukan bertahap dengan koordinasi teknis bersama pemerintah dan lembaga terkait
"Setiap tahapan perlu diuji agar sesuai dengan karakter operasional kereta api yang memiliki beban, durasi operasi, dan standar keandalan sarana yang tinggi," kata Anne dalam keterangan di Jakarta, Senin (15/6).
KAI mendukung kebijakan pemerintah dalam memperluas pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan.
"Pada saat yang sama, kami memastikan setiap tahapan penggunaan biodiesel berjalan melalui pengujian teknis dan evaluasi agar layanan kepada pelanggan serta sektor logistik tetap aman dan andal," ujar Anne.
Dia menjelaskan KAI bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memulai tahapan uji teknis penggunaan B50 pada sektor kereta api sejak April 2026.
Pengujian tersebut mencakup lokomotif dan genset kereta api untuk menilai performa, konsumsi bahan bakar, emisi, serta ketahanan sarana dalam kondisi operasional.
Pada pengujian lokomotif, KAI menyiapkan lokomotif CC206 dengan rangkaian KA Sembrani. Uji lokomotif dimulai dari Depo Sidotopo dengan pembandingan konsumsi bahan bakar menggunakan B40 dan B50.
Sementara itu, uji genset dilakukan pada genset MTU 2000 P02411 di KA Bogowonto, dengan lokasi pengujian di Depo Kereta Yogyakarta. Rangkaian uji genset meliputi uji performa, uji konsumsi bahan bakar, uji emisi dengan B40 dan B50, serta uji ketahanan statis selama 6 jam menggunakan kapasitas maksimum load bank.
Setelah itu, uji ketahanan dinamis genset dilanjutkan selama 2.400 jam mulai 27 April 2026 di PUK Lempuyangan. Dengan demikian, pada Juni 2026 KAI berada pada tahap pemantauan dan evaluasi teknis terhadap hasil pengujian sebelum implementasi B50 berjalan lebih luas.
Ia menegaskan hasil pengujian menjadi dasar evaluasi KAI, terutama terkait performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas operasional, kondisi filter, aspek emisi, dan kebutuhan perawatan sarana.
"Prinsip kami jelas, transisi energi harus berjalan sejalan dengan keselamatan dan keandalan operasi," tegas Anne.
Lebih lanjut, dia mengatakan transisi menuju B50 masuk dalam program aksi strategis dekarbonisasi KAI 2025-2030. Dalam program tersebut, perubahan bahan bakar dari B35 menjadi B50 ditargetkan dapat menurunkan emisi sebesar 133.676 ton CO2e.
Program ini menjadi kontributor terbesar dalam target tiga program dekarbonisasi utama KAI sebesar 166.873 ton CO2e, bersama konservasi dan kredit karbon serta efisiensi listrik.
KAI juga terus memperkuat pengukuran jejak karbon melalui pendekatan berbasis data. Dalam penilaian Life Cycle Assessment bersama BRIN, operasional KRL Jabodetabek menghasilkan jejak karbon sekitar 34,03 gram CO2e per penumpang-kilometer.
"Pendekatan pengukuran ini memperkuat transparansi KAI dalam memantau dampak lingkungan dari layanan transportasi berbasis rel," katanya.
Dalam masa transisi energi, tambah Anne, dukungan itu membantu KAI menjaga keberlangsungan operasional sambil menyiapkan penggunaan energi yang lebih rendah emisi secara bertahap.
