Demo yang Dipimpin Gen Z di Jerman Ricuh, Toko-toko di Frankfurt Dijarah

Desy Setyowati
1 November 2026, 08:07
Demo di Jerman, demo gen z di Jerman,
TikTok @BossMess
Demo di Jerman
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Demonstrasi yang dipimpin oleh Generasi Z di Jerman berujung ricuh pada Sabtu malam (31/10). Sejumlah perusuh bertopeng menjarah toko-toko di Frankfurt setelah puluhan ribu orang turun ke jalan di berbagai kota untuk menuntut perbaikan pendidikan dan biaya hidup yang lebih terjangkau.

Mengutip Reuters pada Minggu (1/11), sedikitnya dua toko dijarah di Frankfurt, salah satu pusat keuangan Jerman. Sejumlah toko lainnya mengalami kerusakan setelah demonstrasi berubah menjadi kekerasan.

Polisi Frankfurt melaporkan kerusuhan masih berlangsung pada Sabtu malam (31/10). Melalui akun X, kepolisian menyatakan sejumlah etalase toko di pusat kota dihancurkan. Bom molotov juga dilemparkan ke arah petugas layanan darurat.

Polisi mendesak masyarakat menjauhi pusat kota atau meninggalkan kawasan tersebut untuk menghindari situasi yang membahayakan.

Dikutip dari Associated Press (AP) News, para perusuh juga mencuri senjata dari toko senjata di Frankfurt. Polisi kemudian berhasil menemukan kembali senjata tersebut.

Sebelum bentrokan terjadi, para demonstran telah turun ke jalan di lebih dari 30 kota di Jerman, termasuk Berlin, Frankfurt, dan Munich. Aksi itu diselenggarakan oleh kelompok kampanye Gen Z regelt, yang secara harfiah berarti kurang lebih 'Generasi Z mengambil alih'.

Kelompok ini menyerukan peningkatan investasi di bidang pendidikan, kesehatan, perlindungan iklim, dan layanan sosial. Mereka juga menuntut biaya hidup yang lebih terjangkau serta menentang kembalinya wajib militer.

Juru bicara Gen Z regelt, Lina Friedrich, mengatakan demonstrasi itu merupakan bentuk perjuangan untuk perdamaian dan kebebasan, bukan perang dan pemaksaan.

"Yang terpenting bagi kami adalah dukungan yang lebih baik untuk sistem kesehatan dan pendidikan. Kami menentang wajib militer dan kami mendukung distribusi beban yang lebih adil," kata Friedrich di Berlin, dikutip dari Reuters, Minggu (1/11).

Jumlah peserta demonstrasi di Jerman lebih kecil dibanding perkiraan awal penyelenggara. Polisi di Frankfurt, Munich, dan Berlin melaporkan sekitar 18 ribu demonstran. Angka ini setara dengan separuh dari sekitar 36 ribu peserta yang tercantum di situs web penyelenggara untuk ketiga kota tersebut.

Sementara itu, AP News melaporkan bahwa penyelenggara menyebut puluhan ribu orang berpartisipasi dalam demonstrasi di berbagai wilayah Jerman. Namun, angka resmi secara keseluruhan belum tersedia.

Di Berlin, para demonstran muda berkumpul di Gerbang Brandenburg untuk menuntut peningkatan investasi di bidang pendidikan dan perumahan.

Seorang siswi sekolah menengah atas, Lara Breitenbach, mengatakan pemerintah perlu mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk layanan sosial, pendidikan, dan perlindungan iklim.

"Kami menyerukan agar lebih banyak uang diinvestasikan dalam layanan sosial dan pendidikan, serta dalam perlindungan iklim, singkatnya, untuk masa depan kita, karena kitalah yang akan terkena dampaknya paling lama dan yang harus hidup dengannya," kata Breitenbach, dikutip AP News.

Demonstran lainnya, Janelle Schulz, juga menyoroti kondisi fasilitas pendidikan. Ia mengatakan langit-langit sekolahnya rusak akibat air, sementara sekolah kekurangan guru dan memiliki toilet yang rusak.

Keluhan serupa disampaikan mahasiswa Universitas Teknik Berlin, Sean Baker, yang berencana mengikuti demonstrasi untuk menyoroti kondisi bangunan kampusnya.

Menurut Baker, sejumlah ruangan di kampus tampak seperti bangunan terbengkalai, meskipun mahasiswa diharapkan menggunakannya untuk kegiatan belajar secara rutin.

Sementara itu, saah seorang peserta demo berusia 18 tahun bernama Steve, mengatakan pemerintah belum memberikan tanggapan yang memadai terhadap keresahan anak muda.

"Pemerintah tidak memberikan tanggapan apa pun terhadap kekhawatiran kami selain terus melakukan pemotongan anggaran dan menambah beban lebih lanjut kepada kami," kata Steve, dikutip dari Reuters.

Ia mengatakan para demonstran akan terus menggunakan hak untuk berkumpul hingga pemerintah berhenti mengabaikan aspirasi mereka.

Kerusuhan Juga Terjadi di Hamburg dan Cologne

Frankfurt bukan satu-satunya kota di Jerman yang mengalami gangguan keamanan selama demonstrasi.

Di Hamburg, sejumlah barikade dibakar. Dikutip dari AP News, beberapa demonstran juga menembakkan kembang api ke arah polisi. Petugas menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa.

Sementara itu, polisi di Cologne mengakhiri pawai lebih awal setelah sejumlah demonstran menggunakan kembang api, melempari petugas dengan batu, dan menutupi wajah meskipun terdapat larangan. Polisi juga menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstran.

Meski demikian, otoritas Jerman menyatakan demonstrasi pada Sabtu (31/10), yang bertepatan dengan perayaan Halloween, sebagian besar berlangsung damai. Pihak berwenang juga memperingatkan adanya upaya kelompok ekstremis untuk memanfaatkan gerakan tersebut.

Menteri Dalam Negeri negara bagian Hesse, Roman Poseck, mengingatkan agar Jerman tidak mengalami situasi serupa dengan Prancis, tempat demonstrasi sebelumnya diwarnai penjarahan dan pembakaran.

"Kita semua memiliki gambaran-gambaran dari Prancis itu dalam benak kita, penjarahan, pembakaran rumah, pembakaran kendaraan polisi, dan serangan terhadap petugas polisi," kata Poseck, dikutip Reuters. "Prancis tidak boleh dijadikan contoh dalam hal ini."

Menurut Kementerian Dalam Negeri Federal Jerman, sebagian kelompok ekstremis sayap kiri dan sejumlah kelompok yang terkait dengan gerakan ekstremis asing telah bergabung dalam upaya memobilisasi dukungan.

Kekhawatiran terhadap potensi kerusuhan juga mendorong sejumlah bisnis mengambil langkah pencegahan. Beberapa toko menutup jendela dengan papan dan berencana tutup lebih awal menjelang demonstrasi, termasuk toko-toko di sepanjang jalan perbelanjaan mewah Kurfuerstendamm di Berlin.

Gelombang Protes Anak Muda Meluas di Eropa

Demonstrasi di Jerman berlangsung di tengah gelombang protes yang dipimpin anak muda di sejumlah negara Eropa. Selain Jerman, aksi berlangsung di Prancis, Portugal, dan Belanda.

Di Prancis, ratusan ribu demonstran turun ke jalan pada Sabtu (31/10) untuk menyuarakan berbagai keluhan, termasuk biaya hidup dan kondisi pendidikan. Aksi ini menjadi demonstrasi akhir pekan ketiga berturut-turut yang dipicu oleh frustrasi siswa sekolah menengah terhadap kondisi sekolah dan prospek masa depan mereka.

Mengutip daru AP News, Pemerintah Prancis memperkirakan sekitar 320 ribu orang mengikuti demonstrasi di seluruh negeri pada Sabtu (31/10). Jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan 550 ribu peserta pada 17 Oktober dan 410 ribu peserta pada 24 Oktober.

Meskipun sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, bentrokan terjadi di Paris dan sejumlah kota lainnya. Kelompok-kelompok kecil melemparkan botol kaca dan kembang api ke arah polisi, yang kemudian membalas dengan granat kejut dan gas air mata.

Pihak berwenang Prancis mengerahkan sekitar 70 ribu polisi dan gendarme di seluruh negeri untuk mengantisipasi kerusuhan. Hingga Sabtu malam, polisi melaporkan lebih dari 560 penangkapan di seluruh Prancis.

Di Paris, polisi mengalihkan rute pawai ke pinggiran ibu kota untuk melindungi toko, gedung pemerintah, dan kawasan wisata di pusat kota. Polisi juga memberlakukan pembatasan akses di sejumlah kawasan populer di kalangan anak muda.

Sementara itu, di Lisbon, Portugal, ribuan orang, termasuk keluarga dengan anak kecil, menggelar demonstrasi damai untuk memprotes krisis perumahan. Mereka membawa plakat bertuliskan tuntutan mengenai akses terhadap tempat tinggal.

Di Den Haag, Belanda, polisi meningkatkan kehadiran di sekitar kawasan perbelanjaan pusat kota setelah muncul seruan demonstrasi secara daring dan kekhawatiran akan penjarahan. Sejumlah toko memilih tutup sebagai tindakan pencegahan, meskipun hingga pertengahan sore tidak terjadi gangguan besar.

Perkembangan demonstrasi di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya menunjukkan bahwa tuntutan terkait pendidikan, biaya hidup, perumahan, dan layanan publik menjadi bagian penting dari keresahan generasi muda. Namun, aksi yang semula berfokus pada tuntutan sosial ini juga menghadapi risiko eskalasi ketika sebagian peserta terlibat dalam kekerasan dan perusakan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...