Karier Panjang Mantan Pegawai IIIC Kemenkeu yang Diduga Ikut ISIS
Mantan pegawai Kementerian Keuangan, Triyono Utomo Abdul Bakti, dideportasi Pemerintah Turki lantaran diduga akan bergabung dengan kelompok militan Negara Islam di Suriah dan Islam (ISIS). Ia dideportasi bersama istri dan tiga orang anaknya yang masing-masing berusia 3, 7, dan 12 tahun, setelah ditangkap tentara Turki bersama 20 orang lainnya, Senin, 16 Januari lalu.
Kementerian Keuangan membenarkan Triyono adalah mantan pegawai di institusi tersebut. “Yang bersangkutan merupakan mantan pegawai Kemenkeu dengan pangkat terakhir IIIC,” demikian tertulis dalam siaran pers yang diterima Katadata, Jumat (27/1).
Triyono mengundurkan diri sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kemenkeu dengan alasan ingin mengurus pesantren anak yatim di Bogor. Ia-pun diberhentikan sebagai PNS mulai Agustus 2016 melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK).
(Baca: Bawa Keluarga ke Turki, Mantan Pegawai Kemenkeu Diduga Ikut ISIS)
Karier Triyono di Kementerian Keuangan cukup panjang. Ia meraih gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST.) dan Akuntan (Ak.) di Sekolah Tinggi Akuntansi pada tahun 2004 dan Master of Public Administration (MPA) di Flinders University of South Australia tahun 2009.
Ia pernah bekerja pada Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN),Kemenkeu. Posisi terakhirnya adalah ekonom (Economist) di bidang Kebijakan Publik pada Pusat Kebijakan Pendapatan Negara, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.
Lantaran sudah berstatus mantan pegawai, Kemenkeu menyatakan aktivitas Triyono merupakan tanggung jawab pribadinya. Jadi, Kemenkeu tidak akan memberikan bantuan hukum apapun.
“Kementerian Keuangan tidak memberikan bantuan hukum kepada yang bersangkutan, menjungjung azas praduga tak bersalah, dan menghormati proses penegakan hukum yang dilaksanakan kepolisian,” demikian tertulis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara kepolisian, Triyono dan keluarga diketahui mencapai Turki melalui Thailand. Mereka berangkat ke Thailand pada pertengahan Agustus 2016 dengan menggunakan pesawat Garuda Airlines.
Setibanya di Turki, mereka sempat menginap selama satu minggu di Taksim Square Istambul, sebelum berpindah ke apartemen Asenyut Istambul dan menginap di sana selama dua minggu. Keluarga ini bahkan sempat tinggal di suatu penampungan selama tiga bulan.
Sementara ini diketahui biaya perjalanan Triyono dan keluarga menggunakan biaya sendiri dari hasil menjual rumah. Keluarga itu juga dipulangkan dengan biaya sendiri melalui rute Istambul - Dubai - Denpasar. Kelimanya sampai di Bandara Ngurah Rai, Bali pada Rabu (25/1) lalu.

