Penyebaran Informasi dan Sosialisasi Vaksinasi Perlu Diperkuat

Image title
11 Juni 2021, 16:25
Penyebaran Informasi dan Sosialisasi Vaksinasi Perlu Diperkuat
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/rwa.
Petugas bersiap menyuntikkan vaksin COVID-19 produksi Sinovac kepada tenaga kesehatan saat kegiatan vaksinasi massal dosis pertama di Puskesmas Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Minggu (7/2/2021).

Informasi tentang vaksinasi Covid-19 belum tertangkap dengan baik oleh masyarakat. Dampaknya sebagian warga menjadi takut, bahkan enggan divaksinasi. Oleh karenanya, diperlukan penguatan sosialisasi dan penyebaran informasi terkait vaksinasi Covid-19

Hal ini diungkapkan dalam hasil asesmen umpan balik warga yang dilakukan oleh LaporCovid-19 bersama Wahana Visi Indonesia (WVI) terkait pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Pemaparan hasil asesmen dilakukan pada sesi diskusi virtual yang berlangsung beberapa waktu yang lalu.

Berdasarkan laporan tersebut, ketika diminta untuk memberikan rekomendasi, 40,3 persen responden dari wilayah perdesaan dan 28,3 persen responden dari wilayah perkotaan menyampaikan perlu penguatan penyebaran informasi dan sosialisasi vaksin Covid-19.

“Dari asesmen tadi, ada empat masalah besar yang kami buat klaster kembali: masalah terkait informasi pelaksanaan vaksinasi, keluhan atas proses pelaksanaan vaksinasi (screening yang kurang), masalah prioritas, dan takut atau enggan divaksinasi,” ujar relawan LaporCovid-19 Amanda. 

Masalah terkait sosialisasi dan penyebaran informasi berkisar pada topik siapa saja yang sudah divaksin, kapan harus divaksin dan bagaimana prosedurnya, tidak tahu lokasi vaksinasi, dan ketakutan akan vaksin. 

Adapun keluhan yang banyak muncul terkait situasi saat vaksinasi adalah antrean yang panjang, ketidakjelasan saat wawancara kesehatan, dan penyimpanan kemasan yang sembarangan. Sementara terkait prioritas, Amanda mengungkapkan, cukup banyak yang mengeluhkan adanya kelompok nonprioritas yang justru mendapat vaksin terlebih dahulu dibanding lansia. 

Selain memperkuat penyebaran informasi dan sosialisasi vaksinasi Covid-19, pemerintah juga dianggap perlu memprioritaskan ketersediaan anggaran untuk memastikan kebutuhan vaksin tercukupi. 

“Pelaksanaan vaksinasi juga perlu dilakukan secara transparan dan harus terus dimonitor dan dievaluasi. Pemda juga perlu menyusun strategi komunikasi yang mempertimbangkan keragaman kebutuhan informasi bagi masyarakat dan proaktif melakukan pendataan serta pendaftaran vaksin," kata Amanda. 

Data asesmen dikumpulkan selama 6-26 April 2021 dengan memanfaatkan chatbot di aplikasi Whatsapp dan Telegram dengan jumlah responden 185 orang. Berdasarkan demografi, sebanyak 66,5 persen responden tinggal di wilayah perkotaan dan 33,5 persen sisanya dari wilayah perdesaan. Usia responden beragam namun mayoritas (74,5 persen) berada di kisaran 25-29 tahun.

Secara umum, ada 45 persen umpan balik dari responden wilayah rural dan 20 persen dari wilayah urban yang memberi penilaian buruk. Adapun secara akumulasi, sebesar 28,1 persen responden menilai buruk dan 56,8 persen menilai pelaksanaan vaksinasi berjalan dengan baik. 

Temuan lain menyebutkan, pelapor dari wilayah urban mengetahui informasi dasar rencana vaksinasi yang lebih baik dibandingkan responden dari wilayah rural. Pengetahuan dasar tersebut terkait kapan akan mendapat vaksinasi, siapa saja kelompok yang mendapat prioritas, bagaimana proses pendaftaran, dan kepastian vaksinasi gratis.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...