Sejarah Kawasan Kota Tua dan Upaya Daendels Pindahkan Pusat Kota

Sorta Tobing
6 Agustus 2021, 11:00
kota tua, daendels, jalan raya pos, jakarta
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.
Foto udara Kawasan Wisata Kota Tua di Jakarta, Minggu (31/5).

Kawasan Kota Tua di pusat Jakarta memiliki sejarah panjang kolonialisme. Saksi bisu peninggalan ini terlihat dari bangunan-bangunan lama di dalamnya, seperti kompleks pergudangan dan reruntuhan tembok besar.

Kedua bangunan yang warna putihnya telah kusam itu kini tertutup oleh pohon dan tanaman rambat. Dahulu di sinilah lokasi Kasteel Batavia. Benteng yang berbentuk persegi ini memiliki dengan empat bastion atau selekoh di penjurunya. 

Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen membangun benteng itu pada 1619. Fungsinya sebagai pertahanan kota baru, bernama Batavia. Kota inilah pusat perdagangan dan pemerintahan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Nusantara. 

Batavia ketika itu menjadi lokasi kedigdayaan VOC, persekutuan dagang asal Belanda. Coen membuatnya menjadi eksklusif, hanya pejabat tinggi kota yang boleh tinggal di dalamnya. Sedangkan penduduk lokal dilarang memasuki, apalagi bermukim di dalam tembok kota.

National Geographic menuliskan, kilau kota dalam benteng itu meredup sepeninggal Coen. Buruknya sanitasi, ledakan penduduk, wabah penyakit, serta banjir menjadi pemicu utama. Kota itu menjadi sesak dan tidak sehat pada abad ke-18.

Lalu, orang-orang kaya memutuskan untuk pindah ke selatan. Kawasan Jalan Gadjah Mada dan Lapangan Banteng menjadi tujuan mereka. Batavia yang disebut Koningin van het Oosten atau Ratu dari Timur berganti menjadi Graf der Hollanders alias kuburan orang Belanda. 

Pemindahan Pusat Kota 

Keadaan mulai berubah ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels berkuasa pada 1808 sampai 1811. Ia terkenal sebagai otak pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Saat menjabat, Daendels juga yang memindahkan pusat kota Batavia.  

Ketika itu, ia melihat kondisi Ibu Kota sudah tidak sehat dan memprihatinkan. Daendels memerintahkan pemindahan pusat pemerintahan dan militer dari kawasan Kota Tua ke Kota Baru. Ibu kota Hindia Belanda pindah ke arah selatan menuju Weltevreden.

Halaman:

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...