Menjejak Tradisi, Menemukan Kearifan di Desa Wisata Pentingsari

Karunia Putri
3 Agustus 2025, 07:36
Warga Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta
Katadata/ karunia putri
Warga Desa Wisata Pentingsari, Yogyakarta
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Fitri Andono Warih tampak sibuk melipat lembaran kain batik. Batik-batik buatannya ia beri label Batik Badong. Kain beragam corak dan warna tersebut merupakan satu diantara hasil Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Desa Wisata Pentingsari, Sleman, Yogyakarta.

Selain menjual batik buatannya, Fitri juga menjual jasa belajar membatik kepada wisatawan yang datang ke Pentingsari. Ia mengatakan, dalam sebulan, ia dapat meraup omset sebesar 10 hingga 15 kali lebih besar dari penjualan batik dan workshop dibandingkan sebelum Pentingsari bertransformasi menjadi desa wisata.

“Harga workshop Rp 45 ribu per orang, kelasnya sekitar 3-4 jam membatik,” kata perempuan yang kerap disapa Andono tersebut, Kamis (31/7).

Desa binaan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tersebut merupakan desa teratas yang berada 12 kilometer dari puncak Gunung Merapi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebelum memutuskan untuk menjadikan Pentingsari sebagai desa wisata, masyarakat desa Pentingsari berprofesi sebagai petani. Kini, Pentingsari menjadi pelaku dalam industri wisata berbasis budaya dan edukasi.

Ciptaningtyas, Ketua Pengelola Desa Wisata Pentingsari menjelaskan, Pentingsari bukan termasuk desa yang memiliki daya tarik wisata (DTW). Meski begitu, masyarakat Pentingsari ingin mengelola desa menjadi sebuah desa wisata dengan memanfaatkan ramah tamah dan keahlian yang dimiliki desa.

Perempuan yang biasa disapa Ning itu bercerita, pengelola desa  hanya mengelola dusun kecil itu. Setiap sudut dari desanya kita jadikan destinasi wisata. Hal itu dilakukan agar semua pengunjung atau wisatawan yang datang ke Pentingsari merasakan sesuatu sensasi yang berbeda.

"Pentingsari bukan desa dengan daya tarik wisata khas. Tapi kami percaya, keramahan dan kearifan lokal bisa menjadi daya pikat tersendiri," kata Ning.

Ia bercerita, sejak 2008 warga mulai membenahi desanya dengan berbagai cara agar menjadikan setiap sudut desa sebagai destinasi. Menurut Ning bukan melalui pembangunan besar-besaran, melainkan dengan memanfaatkan aktivitas harian warga sebagai atraksi. Mulai dari belajar bertani kopi, membatik hingga belajar memainkan alat musik tradisional.

"Desa kami tidak menjual tiket, kami menjual paket kegiatan. Pengalaman adalah produk utama kami," ujarnya.

Pentingsari menawarkan berbagai paket wisata, mulai dari dua hari satu malam hingga tujuh hari enam malam. Dalam kurun waktu itu, wisatawan dapat belajar tentang pertanian, budaya, hingga ikut mengolah kopi dari kebun ke cangkir.

Desa ini kini dihuni sekitar 475 jiwa yang tersebar di empat RT dan dua RW. Hingga 2024, terdapat lebih dari 80 homestay dengan kapasitas menampung hingga 500 wisatawan. Dengan model pariwisata berbasis komunitas seperti ini, jumlah kunjungan terus meningkat.

"Dulu, kunjungan kami rata-rata 20 ribu orang per tahun dengan omzet sekitar Rp 1,3 miliar. Tapi dua tahun terakhir meroket drastis. Untuk 2024, jumlah wisatawan mencapai 29 ribu orang dan omzet tercatat sekitar Rp 4,8 miliar," ujar Ning.

Capaian tersebut turut mengantar Pentingsari meraih berbagai penghargaan, antara lain ASEAN Tourism Award 2023 untuk kategori pemberdayaan masyarakat, ASEAN Sustainable Tourism Award 2022 dan Desa Wisata Mandiri Inspiratif ADWI 2021.

Menurut Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono, keterlibatan BCA dalam membina Pentingsari merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Melalui pendekatan ekonomi lokal, pelestarian budaya, dan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), program Desa Wisata menjadi medium pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.

Wisatawan Menurun Imbas SK Larangan Study Tour

Laju pertumbuhan kunjungan ke Pentingsari sempat tersendat pada Mei 2025. Ning menyebut, sekitar 1.200 wisatawan dari kalangan pelajar membatalkan kunjungan mereka ke Pentingsari. Ini imbas dari surat edaran larangan study tour yang dikeluarkan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

“Kunjungan turun hingga 30% pada bulan Mei. Banyak sekolah yang batal datang,” ujarnya.

Padahal, pelajar sekolah merupakan pasar utama dari paket edukasi yang ditawarkan Pentingsari. Selaras dengan program P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang diusung Kemendikbud Ristek, desa ini dirancang sebagai ruang belajar alternatif bagi siswa bukan hanya di atas kertas, tetapi langsung dari kehidupan.

"Anak-anak jadi tahu dari mana asal nasi yang mereka makan. Mereka turun ke sawah, kotor-kotoran, dan merasakan betapa besar usaha petani," kata dia.

Larangan study tour tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 43/PK.03.04/Kesra yang dikeluarkan pada 2 Mei 2025. Dalam surat itu, sekolah diminta mengganti kegiatan wisata dengan program berbasis inovasi seperti pengelolaan sampah, pertanian organik, dan pelatihan kewirausahaan. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...