Firasat Keluarga dan Kronologi Kematian Driver Grab Dandi Imbas Demo di Makassar
Pengemudi ojek online (ojol) mitra Grab indonesia, Rusdamdiansyah atau kerap dipanggil Dandi meninggal di Rumah Sakit Kementerian Kesehatan CPI pada Sabtu (30/8). Dandi menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah kelompok orang saat aksi demonstrasi yang berlangsung di depan kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar pada Jumat (29/8) malam.
Adik ipar Dandi, Reza menceritakan, hari Jumat itu kegiatan Dandi tidak berjalan seperti biasanya. Kakak iparnya tersebut tidak mengambil orderan karena adanya aksi demonstrasi yang digelar di beberapa titik di kota Makassar.
Adapun ayah Dandi, Rustam mengatakan, sore sebelum kejadian tersebut, Dandi sempat mengirimkan fotonya kepada Rustam dan memintanya untuk menyimpan foto tersebut. Dengan menahan isakan, ayah Dandi juga menyebut anaknya baru saja selesai mencuci motor miliknya.
“Itu motor sudah saya cuci. Saya tidak mau pakai lagi,” kata Rustam seraya menirukan ucapan Dandi dengan terisak.
Salah satu titik aksi berada tak jauh dari rumahnya di Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Panakkukang, Makassar tepatnya di kampus UMI. Sekitar pukul lima atau enam sore hari Dandi keluar dari rumah berjalan kaki untuk menemui tantenya.
Ia berjalan melewati titik aksi di depan Kampus UMI. Menurut informasi yang didapat Reza, Dandi diduga dikeroyok oleh sekelompok orang yang ada di lokasi demo tersebut. Dandi disebut-sebut sebagai intel karena memiliki tubuh yang tinggi.
“Kami [keluarga Dandi] mendengar beritanya dari orang tidak dikenal yang menelpon ke kami lewat handphone almarhum,” kata Reza ketika ditemui di rumah duka, Makassar, Senin (1/9).
Saat itu, Reza sedang bekerja. Ia mendapat kabar bahwa Dandi sudah dalam keadaan tak sadarkan diri di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Kemenkes CPI akibat kecelakaan.
“Info awalnya katanya kecelakaan, tapi saya tidak percaya. Karena anak ini cuma jalan kaki keluar, tidak bawa motor,” ujarnya.
Mengetahui Dandi keluar tidak mengendarai motor, ditambah lagi setelah mendapati lalu lintas sepi dan ujung jalan AP Pettarani ditutup akibat unjuk rasa, Reza langsung curiga terkaparnya Dandi di rumah sakit diakibatkan demonstrasi atau perang kelompok.
Berdasarkan informasi yang diterima Reza, adik iparnya diteriaki sebagai intel oleh sekelompok orang dalam aksi tersebut. Hasil pemeriksaan tubuh Dandi mencatat, ia mengalami pendarahan kuat di otak dengan kondisi tengkorak kepala yang pecah.
Kondisi tersebut yang membuat Dandi tidak sadarkan diri. Namun tak ada informasi yang jelas siapa atau kelompok mana sebenarnya yang disebut telah mengeroyok Dandi.
Dandi sempat dioperasi karena kondisinya yang makin kritis. Pukul 9.40 WITA keesokan harinya, Dandi dinyatakan meninggal.
Dandi di Mata Keluarga dan Teman Grab
Reza menyampaikan, di mata keluarga, Dandi adalah pribadi yang ramah dan pekerja keras. Reza juga bilang ia tak pernah mendengar Dandi mengeluh. “Dia penyayang keluarga dan menjadi salah satu tulang punggung keluarga,” katanya.
Reza berharap, kasus yang menimpa adik iparnya ini dapat segera diusut tuntas. “Agar tidak ada Dandi kedua, ketiga dan seterusnya,” tutupnya.
Di samping itu, Arif, rekan Dandi sebagai pengemudi ojol mitra Grab Indonesia menyatakan, Dandi merupakan sosok yang baik dan dikenal pendiam. Beberapa kali ia dan Dandi juga sering menanjak gunung bersama.
