KPK Telusuri Penghasilan RK, Klaim Beli Mercy–Royal Enfield Pakai Uang Pribadi
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menelusuri penghasilan resmi mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil terkait perkara dugaan korupsi pengadaan iklan di PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB). Hal ini didalami penyidik saat memeriksa RK pada Selasa (2/12).
Juru bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan, pendalaman penghasilan RK akan disandingkan dengan penghasilannya sebagai Gubernur Jawa Barat saat perkara tersebut berlangsung.
“Disandingkan juga dengan apakah ada penghasilan-penghasilan lain di luar penghasilan resmi sebagai Gubernur Jawa Barat. Nah, ini semuanya didalami, ditelusuri, sekaligus dikonfirmasi,” kata Budi, di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (2/12) malam.
KPK juga mendalami sejumlah aset yang belum dilaporkan RK ke dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). Sejauh ini, lembaga antirasuah telah menyita dua aset milik RK yaitu Mercedes Benz 280 SL dan motor Royal Enfield.
Setelah diperiksa lebih dari enam jam, RK membantah menerima aliran dana nonbujeter dalam kasus dugaan korupsi pengadaan iklan di Bank BJB atau PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. Ia mengklaim, dana yang digunakan untuk membeli motor Royal Enfield, mobil Mercedes-Benz, serta aliran dana ke selebgram Lisa Mariana berasal dari dana pribadi miliknya.
“Karena saya tidak mengetahui, maka semua yang pernah ramai itu semua adalah dana pribadi ya. Dana pribadi sendiri jadi tidak ada hubungan dengan perkara yang dimaksud, kira-kira begitu,” kata RK usai deperika di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (2/12).
Motor Royal Enfield Classic 500 Limited Edition berkelir hitam telah berada di Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan). Sedangkan mobil yang dibelinya dari anak BJ Habibie, Ilham Akbar Habibie saat ini tengah berada di bengkel. Di sisi lain, Ilham telah menyerahkan uang senilai Rp 1,3 miliar yang semula diberikan padanya untuk transaksi mobil tersebut.
Untuk uang yang dialirkan ke selebgram Lisa Mariana, RK mengaku bahwa ia diperas. Uangnya berasal dari saku pribadinya.
“Itu konteksnya pemerasan ya, dan itu uang pribadi. Semua sudah dijelaskan semua dana pribadi,” kata dia.
RK juga membantah keterlibatannya dalam kasus dugaan korupsi pengadaan iklan di Bank BJB atau PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk.
“Pada dasarnya, yang paling utama adalah saya itu tidak mengetahui apa yang namanya menjadi perkara dana iklan ini,” katanya.
Ia menyatakan, aksi korporasi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam hal ini Bank BJB tak berhubungan dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Gubernur.
“Karena dalam tupoksi gubernur, aksi korporasi dari BUMD ini itu adalah dilakukan oleh teknis mereka sendiri,” katanya.
Ia mengklaim, sebagai gubernur hanya mengetahui aksi korporasi BUMD jika menerima laporan. Dalam hal ini oleh para jajaran di BUMD tersebut yakni direksi, komisaris selaku pengawas, atau kepala biro BUMD.
“Tiga-tiganya ini tidak memberi laporan semasa saya jadi gubernur. Makanya kalau ditanya apakah saya mengetahui, saya tidak tahu. Apalagi terlibat, apalagi menikmati hasilnya dan lain sebagainya,” katanya.
RK menjalani pemeriksaan di KPK didampingi kuasa hukumnya di Gedung Merah Putih sejak sekitar pukul 10.40 WIB hingga pukul 16.30 WIB. Direktur Penyidikan KPK Asep Guntur Rahayu sebelumnya mengatakan, RK merupakan komisaris BJB saat menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.
"Setiap pemerintahan daerah tingkat satu itu punya bank. Nah, kemudian gubernur itu menjadi komisarisnya di situ," kata Asep kepada wartawan, Selasa (22/4).
Berdasarkan hal itu, Asep berpandangan RK selaku komisaris seharusnya mengetahui setiap aktivitas bank tersebut. Hal itulah yang akan didalami oleh lembaga antirasuah terhadal RK dalam perkara ini.
"Apakah memang atas sepengetahuan, atau memang tidak sepengetahuan. Kemudian akan dikonfirmasi dari keterangan-keterangan," katanya.
KPK telah menetapkan lima orang tersangka dalam kasus korupsi pengadaan iklan di Bank BJB, yakni Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi, Pejabat Pembuat Komitmen sekaligus Kepala Divisi Corsec BJB Widi Hartoto.
Kemudian, pengendali agensi Antedja Muliatama dan Cakrawala Kreasi Mandiri Ikin Asikin Dulmanan, pengendali agensi BSC Advertising dan Wahana Semesta Bandung Ekspress Suhendrik, serta pengendali Cipta Karya Sukses Bersama Sophan Jaya Kusuma.
