Cerita Para Ibu di Bengkayang Sukses Atasi Stunting dalam 90 Hari
Dapur di pos pelayanan terpadu (posyandu) di Kecamatan Teriak, Kabupaten Bengkayang, ramai sejak pagi. Lima orang perempuan sibuk berbagi tugas. Ada yang mencuci daging ayam, ada yang mengupas kentang, ada yang memotong tempe.
Eva, salah satu juru masak, bahkan sudah bertugas sejak pukul enam pagi. Ia berbelanja bahan masakan di pasar kabupaten yang berjarak 20 menit dengan motor dari desa. Para juru masak kemudian berkreasi mengubah bahan-bahan itu menjadi kroket kentang dengan isian hati ayam.
Saat para juru masak sibuk di dapur, belasan ibu-ibu berkumpul di ruang depan bersama anak-anak mereka. Seluruhnya berusia di bawah dua tahun yang teridentifikasi berisiko stunting. Seorang ibu hamil dengan kandungan berusia 7 bulan juga ada di sana. Ia disinyalir mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK), kondisi masalah gizi akibat ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi dalam jangka waktu lama.
Para juru masak bekerja di dapur untuk menyiapkan makanan bagi anak-anak dan ibu hamil itu. Mereka adalah para relawan Pos Gizi DASHAT, program unggulan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) yang dibuat khusus untuk mengatasi stunting. DASHAT merupakan akronim dari ‘Dapur Sehat Atasi Stunting’.
Sejak 2025, BKKBN bermitra dengan Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) untuk menjalankan program ini di Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Di lapangan, Wahana Visi Indonesia bertindak sebagai pelaksana, lewat payung besar program Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia (PASTI).
Program Pos Gizi DASHAT memiliki dua tahap. Pertama, pemberian makanan tambahan (PMT) bagi anak terindikasi berisiko stunting dan ibu hamil selama 12 hari berturut-turut. Selanjutnya, PMT dilakukan seminggu sekali yang disertai dengan edukasi gizi dan pangan bagi orang tua. Tahap kedua ini dilakukan selama 11 minggu. Secara total, program ini membutuhkan waktu hingga 90 hari.
Hingga 19 November 2025, kemitraan ini berhasil melaksanakan 100 Pos Gizi DASHAT di Kalimantan Barat dan Jawa Timur. Hasilnya cukup menggembirakan. Dalam 90 hari, setidaknya 404 bayi di bawah usia dua tahun (baduta) mengalami peningkatan status gizi menjadi normal. Jumlah ini merepresentasikan sekitar 82% dari total baduta yang disasar.
Masalah Stunting di Lumbung Pangan
Saat Katadata berkunjung ke posyandu di Bengkayang pada Kamis (27/11), program Pos Gizi DASHAT sudah memasuki tahap kedua. Hari itu ada kelas edukasi dengan tema ‘Peran ayah dalam pengasuhan’. Sehingga mestinya, para bapak juga datang ke posyandu. Namun, kebanyakan dari mereka harus bekerja di ladang.
Mayoritas penduduk di Bengkayang memang bekerja sebagai petani. Jagung, pakis, dan buah-buahan seperti jeruk siam dan durian tumbuh subur di wilayah ini. Bengkayang bahkan disiapkan sebagai lumbung jagung untuk Kalimantan Barat.
“Ketahanan pangan kita sangat kuat. Kita swasembada beras, juga salah satu pusat penghasil daging dan sayur-sayuran di Kalbar,” kata Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis, Rabu (26/11).
Meski diproyeksikan menjadi lumbung pangan, kasus stunting di Bengkayang masih tinggi. Data Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) menunjukkan prevalensi stunting di Bengkayang di angka 20,2% per September 2025. Ini masih di atas target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029 yang dipatok 18,8% di 2025.
Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis mengatakan di wilayahnya kini terdapat 21 pos gizi aktif di 18 desa. Ia berencana menerapkan program ini di seluruh desa di Bengkayang yang berjumlah 112 desa.
Sebanyak enam desa akan menjadi percontohan program PASTI. Selain Pos Gizi DASHAT, program PASTI juga berupaya memperkuat sistem pendataan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan kampanye pencegahan stunting di kalangan remaja.
“Upaya akan terus dilakukan sampai kita turunkan angka stunting ke tingkat yang paling rendah. Target kita kalau bisa zero (stunting),” kata Sebastianus Darwis.
National Program Manager PASTI, Hotmianida Pandjaitan, menyebut, enam desa model ini dipilih dari tiap kecamatan di Bengkayang. Lewat desa-desa ini, pendampingan yang dilakukan Wahana Visi Indonesia lebih intens untuk memastikan perangkat desa dan masyarakat memahami upaya pencegahan dan pengentasan stunting secara mandiri.
“Kami memastikan Kepala Desa paham. Kalau ada masalah gizi, ibu-ibu relawan Pos Gizi DASHAT hingga Tim Pendamping Keluarga (TPK) juga memahami tupoksinya dari penyuluhan hingga melakukan rujukan. Kemudian TPPS juga bisa melakukan updating data risiko stunting setiap 6 bulan,” katanya, Selasa (25/11).
Tantangan Anggaran
Di kelas edukasi Kamis itu, Petrus Sidik menjadi salah satu pria yang menjadi peserta. Ia menemani anak perempuanya, Zia, yang masuk kategori terindikasi risiko stunting.
“Kalau berdasarkan data puskesmas, Zia tidak masuk dalam golongan stunting. Tapi dia memang berisiko,” kata Petrus Sidik, yang juga menjabat sebagai kepala desa.
Setelah intervensi Pos Gizi DASHAT selama 12 hari, berat badan Zia terus bertambah. Di hari ke-60, beratnya mencapai 9,3 kilogram atau sudah masuk kategori ideal.
“Zia suka menu kroket kentang hati ayam itu,” kata Petrus.
Setelah merasakan manfaatnya secara langsung, Petrus mengaku ingin melanjutkan program Pos Gizi DASHAT di desanya. Namun, ia mengaku terkendala anggaran. Pasalnya, tahun depan setiap desa harus menyediakan secara mandiri pendanaan untuk program tersebut.
“Anggaran masih mengambang. Kami lihat anggaran dan regulasi dulu,” kata Petrus.
Keresahan yang sama juga disampaikan desa lain di Kecamatan Samalantan. Kepala Desa, Nobertus, mengatakan program ini menyasar setidaknya 13 anak di salah satu posyandu.
“November ini, 95% anak yang ikut Pos Gizi DASHAT berat badannya naik,” katanya.
Nobertus berencana memasukkan anggaran Pos Gizi DASHAT ke APBDes pada 2026 di enam posyandu di desanya. Ia menghitung kebutuhan anggaran untuk PMT tahap 1 mencapai Rp4 juta.
Namun, Nobertus juga masih ragu apakah ada anggaran yang tersedia untuk program ini di tahun depan. “[Anggaran] untuk desa tahun depan hanya sekitar 30% sampai 40%. Sisanya dengar-dengar akan ke Koperasi Desa,” kata Nobertus.
Sebagai antisipasi, Nobertus mencoba menggenjot pendapatan asli daerah (PAD) dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Selain bertumpu pada penggilingan padi dan pengolahan tepung jagung, desa Nobertus juga mulai produksi telur ayam. Selain di jual, produksi telur juga akan disisihkan untuk dibagikan ke anak-anak berisiko stunting.
Merespon hal ini, Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis memastikan tiap desa telah memiliki anggaran untuk program-program pencegahan dan pengentasan stunting, meski tidak spesifik menyebut kegiatan Pos Gizi DASHAT.
“Anggarannya ada. Sudah ada di dana Desa mereka,” kata Sebastianus Darwis.
