Prabowo Bidik Nol Kemiskinan Ekstrem 2029, Pendidikan Jadi Strategi Utama
Presiden Prabowo menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem di Indonesia paling lambat pada 2029. Pemerintah menempatkan pendidikan sebagai strategi utama untuk memutus mata rantai kemiskinan, terutama bagi kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Komitmen tersebut disampaikan Prabowo saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat Terpadu yang tersebar di 34 provinsi. Peresmian dipusatkan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1). Program ini menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, khususnya yang masuk dalam kelompok desil 1 dan 2.
“Cita-cita saya di akhir masa jabatan, tahun 2029, mereka yang berada dalam kemiskinan ekstrem, desil 1 dan 2 bisa kita ubah nasibnya. Kita bisa menghilangkan kemiskinan ekstrem di Indonesia,” ujar Prabowo, dikutip dari Badan Komunikasi RI, Selasa (13/1).
Menurut Prabowo, target tersebut bukan sekadar visi politik, melainkan sasaran yang realistis. Ia menilai, Indonesia memiliki modal keberhasilan yang cukup untuk mencapainya, selama kebijakan dijalankan secara konsisten dan berani mengambil langkah terobosan.
“Saya percaya itu bisa terjadi. Keberhasilan-keberhasilan kita sudah banyak. Kalau dirinci satu per satu tentu panjang. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi kita harus bangga pada prestasi. Kita harus bangga pada bukti,” katanya.
Prabowo juga menekankan pentingnya kolaborasi seluruh elemen bangsa dalam menghadapi persoalan kemiskinan dan kelaparan yang masih menjadi tantangan nasional. Ia mengajak masyarakat, pemerintah daerah, hingga pemangku kepentingan lainnya untuk bekerja secara gotong royong.
“Mari kita bersatu. Mari bekerja sama untuk menghilangkan kemiskinan dan kelaparan dari Indonesia. Kita bangkitkan seluruh kehidupan bangsa Indonesia,” ucap Prabowo.
Ia menegaskan, pembangunan nasional tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan tersebut harus disertai pemerataan agar hasil pembangunan dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.
Dalam pidatonya, Prabowo juga mengingatkan kembali tujuan bernegara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni melindungi seluruh rakyat Indonesia dari ancaman kelaparan, kemiskinan, penderitaan, dan penyakit, serta memajukan kesejahteraan umum.
Dalam kerangka tersebut, pendidikan diposisikan sebagai instrumen paling strategis untuk memutus siklus kemiskinan antar generasi. Melalui program Sekolah Rakyat, pemerintah menyediakan pendidikan gratis berbasis asrama bagi anak-anak dari keluarga miskin dan wilayah tertinggal, dengan harapan meningkatkan mobilitas sosial mereka di masa depan.
Usai meresmikan 166 Sekolah Rakyat, Prabowo menyatakan pemerintah akan terus memperluas cakupan program ini. Targetnya, jumlah Sekolah Rakyat mencapai 500 unit hingga 2029, seiring dengan upaya penguatan kualitas dan pemerataan akses pendidikan.
“Pendidikan adalah sarana paling tepat untuk menghilangkan kemiskinan. Tetapi pendidikan membutuhkan biaya. Uang negara, kalau dicuri atau dikorupsi, tidak akan cukup untuk membangun semua sekolah dan kampus yang ingin kita dirikan,” tegas Prabowo.
