Mentan Amran Ancam Cabut Izin Pengusaha yang Picu Kenaikan Harga Daging Sapi

Kamila Meilina
22 Januari 2026, 15:32
Pedagang memotong daging sapi dagangannya di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (21/1/2026). Menurut Asosiasi Pengusaha dan Pengolahan Daging Indonesia (APPDI) kuota impor daging sapi untuk pengusaha swasta tahun 2026, dipangkas menjadi 30 ribu ton, dari
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/bar
Pedagang memotong daging sapi dagangannya di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Rabu (21/1/2026). Menurut Asosiasi Pengusaha dan Pengolahan Daging Indonesia (APPDI) kuota impor daging sapi untuk pengusaha swasta tahun 2026, dipangkas menjadi 30 ribu ton, dari sebelumnya 180 ribu ton atau hanya setara 16 persen dari total kuota impor daging tahun ini yang mencapai 297 ribu ton.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menurunkan satuan tugas (satgas) untuk menyelidiki dugaan permainan harga daging sapi di tengah aksi mogok pedagang di Jabodetabek.

Amran juga mengancam akan mencabut izin usaha feedloter alias penggemukkan maupun distributor yang jadi penyebab harga daging melonjak. 

“Satgas kami sudah saya minta langsung turun cek mulai hari ini. Kami akan telusuri siapa yang bermain, apakah dari penggemukan, distributor, atau pihak lain. Pasti ketemu nanti,” kata Amran di kantornya, Kamis (22/1).

Amran menegaskan akan menindaklanjuti lonjakan harga daging sapi. Ia menyebut tak akan ragu mencabut izin impor sapi bakalan bagi pengusaha jika ditemukan pelanggaran. 

“Hampir pasti izinnya saya cabut kalau coba-coba main harga. Impor sapi bakalan itu dari saya. Kalau saya temukan, 99 persen izinnya saya cabut dan tidak boleh lagi berbisnis di bidang itu,” kata dia. 

Menurut Amran, pemerintah selama ini telah memfasilitasi impor sapi bakalan dengan total kuota mencapai 700.000 ekor untuk satu tahun, bukan hanya untuk kebutuhan Ramadan. 

Ia belum bisa memastikan pihak yang diduga menaikkan harga peredaran daging di tingkat tertentu. Terkait harga, Amran menyebut pengakuan feedloter, alias penggemukan, menunjukkan harga daging masih berada di bawah harga pokok penjualan (HPP) di penggemukan sapi, berada di kisaran Rp55.000 – Rp56.000 per kilogram.

“Masih di bawah HPP. Tapi tidak berhenti di situ, tetap harus dicek siapa yang menaikkan harga di tingkat tertentu,” katanya.

Di sisi lain, Amran memastikan stok daging sapi nasional dalam kondisi aman hingga Idul Fitri. Ia juga menyebut aksi mogok pedagang daging sapi telah dibahas dan disepakati untuk diakhiri.

“Tadi malam sudah ketemu dan sudah sepakat jualan lagi. Semua harus berjalan sesuai regulasi,” ujarmya.

Sebelumnya, Asosiasi Pedagang Daging Indonesia atau APDI menyampaikan pedagang daging sapi se-Jabodetabek akan mogok berjualan. Ketua APDI Wahyu Purnama mengatakan salah satu pendorong tingginya harga daging sapi dimulai pada tingkat peternak. Alhasil, harga karkas di tingkat RPH mengikuti kenaikan tersebut sampai akhirnya dinikmati konsumen.

Menurutnya, tingginya harga daging sapi di tingkat konsumen tidak tepat di tengah pelemahan daya beli masyarakat. Hal tersebut diperburuk dengan gagalnya upaya stabilisasi harga oleh Kementerian Pertanian selama dua pekan terakhir. 

"Bandar sapi potong, pedagang daging hilirisasi pasar tradisional se-Jabodetabek, dan masyarakat menengah ke bawah sangat terdampak oleh tingginya harga daging sapi. Maka aksi mogok dagang ini salah satu bentuk protes dan keprihatinan kami," kata Wahyu dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (22/1).

Berdasarkan pantauan Katadata di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, pedagang daging sapi terpantau sepi. Salah seorang pedagang menyebut harga daging sapi di tingkat konsumen telah mencapai Rp 140.000 per kilogram sejak akhir bulan lalu.

"Barang ada di rumah jagal, tapi harganya mahal. Kalau kami jual di bawah Rp 130.000 per kg, kami rugi. Namun saat ini kami juga merugi karena tidak berjualan," kata salah seorang pedagang kepada Katadata.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...