Tren Zakat Digital Meningkat, Ramadan Jadi Momentum Saling Berbagi

Kamila Meilina
26 Februari 2026, 20:15
Ramadan, zakat, donasi digital
Katadata/Fauza Syahputra
Pendakwah Husein Jafar Al Hadar menyampaikan tausiah pada acara Ramadan Baik Bersama Katadata di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tren zakat digital di Indonesia terus meningkat, khususnya selama bulan Ramadan. Pendakwah Husein Jafar Al Hadar menyatakan Ramadan bukan sekadar menahan diri dari lapar dan haus, tetapi juga mendorong empati dan kepedulian sosial.

Menurutnya, Ramadan bukan hanya soal menahan diri tetapi tentang belajar keluar dari pusat diri sendiri dan membuka ruang kepedulian bagi orang lain. Menurutnya, praktik berbagi tidak boleh berhenti pada simbol atau seremonial, tetapi harus lahir dari pengalaman empati yang nyata.

Sosok yang akrab disapa Habib Jafar ini mengingatkan bahwa rezeki kerap disempitkan maknanya menjadi sekadar materi. 

“Rezeki itu tidak selalu harta. Kesehatan, waktu luang, dan iman adalah rezeki yang nilainya jauh lebih tinggi dari materi,” kata Habib Jafar dalam acara Ramadan Baik Bersama Katadata di Taman Literasi Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (26/2). 

Habib Jafar juga menekankan pentingnya memaknai rezeki secara luas, tidak hanya sebagai materi, tetapi juga kesehatan, waktu luang, dan keimanan. Ia menyoroti kehadiran bagi keluarga dan kualitas hubungan sosial merupakan bentuk rezeki yang kerap terabaikan.

Tren Pembayaran Zakat Digital Meningkat

Pembayaran zakat tidak hanya bisa dilakukan secara konvensional. Manajer Databoks Jamalianuri mengatakan tren pencarian informasi terkait zakat dan donasi digital meningkat setiap Ramadan.

Menurutnya, kanal digital semakin menjadi pilihan, khususnya bagi generasi muda, karena dinilai lebih praktis, transparan, dan dapat diakses kapan saja. “Literasi zakat meningkat seiring kemudahan akses informasi. Tantangannya adalah memastikan pemahaman publik tentang ke mana dana disalurkan dan dampak sosialnya,” ujarnya.

VP Finance and Business Development Katadata, Ivan Triyogo Priambodo, mengatakan zakat memiliki potensi sebagai instrumen dampak sosial yang berkelanjutan jika dikelola secara profesional dan transparan.

“Zakat bukan sekadar kewajiban individual, tetapi investasi sosial yang dampaknya bisa dirasakan lebih luas ketika dikelola dengan baik,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...