Ekonom dan Bankir Prediksi Perang Iran - AS Berlangsung Singkat, Ini Alasannya
Ekonom hingga bankir besar memperkirakan konflik Iran dan Amerika Serikat tidak akan berlarut-larut. Tren geopolitik dan dampak perekonomian jadi pertimbangan utama proyeksi tersebut.
Konflik kedua negara tersebut dimulai saat Amerika Serikat meluncurkan misil yang membunuh Pemimpin Agung Iran Ali Khamenei pekan lalu, Sabtu (28/2).
"Presiden Amerika Serikat Donald Trump memproyeksikan perang ini hanya berlangsung 4-5 pekan karena tidak ingin menjadi konflik buntu," kata Peneliti Hubungan Internasional CSIS Muhammad Waffaa Kharisma kepada Katadata.co.id, Selasa (3/3).
Waffaa menilai proyeksi Trump merupakan hasil dari keberhasilan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal tahun, Sabtu (3/1). Karena itu, Waffaa berpendapat proyeksi lama perang tergantung kemampuan Trump meraba kekuatan Iran.
Meski demikian Waffaa mengatakan, Iran dan Venezuela memiliki karakter yang berbeda karena Tanah Persia memiliki umur peradaban yang lebih tua. Alhasil, militer Iran dinilai memiliki tujuan yang berbeda, yakni harga diri.
"Retaliasi oleh Iran akan dilaksanakan dan bukan menjadikan Iran takut setelah kehilangan pemimpin. Jadi, pemerintah Amerika Serikat sangat meremehkan kemampuan Iran dalam hal ini," katanya.
Sebelumya, Trump menyatakan perang di Iran diproyeksi akan memakan waktu empat sampai lima pekan. Namun Trump menekankan militer Amerika Serikat memiliki kapabilitas untuk periode perang yang lebih lama.
Dikutip dari Bloomberg, CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon mengatakan kompleksitas konflik geopolitik semakin meningkat sejak perang dunia kedua. Pada saat yang sama, konflik tersebut dinilai akan mereda seiring waktu.
Dimon mencatat beberapa konflik geopolitik yang mereda seiring waktu, seperti Ukraina-Rusia, Iran-Amerika Serikat, Korea Utara-Amerika Serikat, dan Cina-Amerika Serikat.
Karena itu, Dimon meramalkan perang antara Iran dan Amerika Serikat akan berlangsung singkat. Walau demikian, konflik tersebut akan menggenjot harga minyak dunia menjadi US$ 100 per barel dalam periode pendek.
"Perang Iran dan Amerika Serikat kali ini kemungkinan tidak akan berdampak besar. Namun jika perang ini berkepanjangan, semua perkiraan tidak lagi berlaku," kata Dimon.
Senada, CEO Franklin Templeton, Jeny Johnson memprediksi perang antara Iran dan Amerika Serikat tidak akan lebih dari lima pekan. Namun perkiraan tersebut hanya akan berlaku jika negara yang terkena serangan Iran tidak melakukan retaliasi.
Seperti diketahui, Iran telah meluncurkan misil ke delapan negara di Timur Tengah selama akhir pekan lalu. Secara rinci, negara-negara yang telah diserang misil asal Iran adalah Israel, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Irak, dan Oman.
"Walaupun perang ini memiliki banyak komponen yang bergerak, kejadian ini sebenarnya peristiwa jangka pendek," kata Johnson.
Chef Economist Berenberg, Holger Schmieding mempertahankan perkiraan harga minyak bumi Brent di rentang US$ 65 sampai US$ 70 per barel pada tahun ini. Untuk diketahui, harga minyak bumi Brent telah menembus US$ 80 per barel kemarin, Senin (2/3).
Walau demikian, Schmieding menilai lonjakan harga minyak bumi Brent tidak berlangsung lama. Sebab, Presiden Trump berkepentingan untuk menjaga perang di Irang berlangsung singkat.
Schmieding menjelaskan perang Iran dan Amerika Serikat akan mendongkrak harga energi global. Menurutnya, Trump akan menghindari lonjakan harga energi dalam jangka lama untuk menghindari kenaikan harga kebutuhan pokok di Amerika Serikat.
"Warga Amerika Serikat telah menyalahkan Trump untuk harga produk konsumen yang tinggi sebelum adanya serangan ke Iran," kata Schmieding.
