Harga minyak telah naik lebih dari 45% sepanjang tahun ini. Hal ini terjadi setelah konflik enam bulan yang dilancarkan AS dan Israel pada akhir Februari menghambat pengiriman minyak dari Teluk Persia
Harga minyak acuan dunia turun dalam tiga hari berturut-turut, di tengah perundingan Iran dan Oman yang membahas rencana untuk kembali membuka jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Rupiah tertekan ke level 17.721 per dolar AS imbas meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta kekhawatiran terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia.
Kontrak berjangka minyak WTI, yang menjadi acuan harga minyak AS, turun sekitar 1,3% menjadi US$ 85,93 per barel. Harga minyak mentah Brent, acuan internasional, turun menjadi US$ 93,22 per barel.
Rupiah berpeluang menguat terbatas hari ini. Namun, ancaman sanksi baru AS terhadap Iran dan harga minyak yang masih tinggi menjadi risiko bagi mata uang Garuda.
Pemimpin baru Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak ikut dalam upaya Amerika Serikat (AS) menekan perekonomian Teheran.
Presiden AS Donald Trump mengancam memulai perang ekonomi besar-besaran bernama "Economic D-Day" terhadap Iran setelah perundingan kedua negara mengalami kebuntuan.
Harga Minyak dunia melanjutkan reli kenaikan kelima hari berturut-turut, terdorong oleh pengumuman langkah-langkah keras Presiden AS Donald Trump terhadap perekonomian Iran.
Harga Minyak dunia terus menguat imbas kebuntuan perundingan AS-Iran dan konflik di Timur Tengah, menambah tekanan inflasi global seiring ketatnya pasokan energi.
Wall Street ditutup melemah karena tekanan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah yang mencapai level tertinggi serta kekhawatiran inflasi dan harga minyak yang masih tinggi.
Harga minyak dunia kembali naik setelah prospek perundingan damai AS-Iran meredup, dengan Brent menyentuh US$91,16 per barel dan WTI US$84,90 per barel.