Dampak Serangan Israel, Lebanon Minta Pinjaman Rp 17 Triliun ke IMF
Dana Moneter Internasional atau IMF dan Pemerintah Lebanon sedang mendiskusikan bantuan cepat terhadap perekonomian Lebanon. Dana segar tersebut dinilai penting agar pemerintah dapat menyerap dampak dari perang di Asia Barat.
Dikutip dari Bloomberg, dana yang dibicarakan oleh pemerintah Lebanon dan IMF antara US$ 800 juta sampai US$ 1 miliar. Namun IMF maupun pemerintah Lebanon belum menentukan skema pembiayaan tersebut.
"Dana tersebut akan ditandai sebagai pendanaan program bantuan dan kemanusiaan," kata sumber Bloomberg, Rabu (15/4).
IMF memiliki skema pembiayaan bagi negara yang membutuhkan dana untuk menyeimbangkan neraca pembayaran, yakni Rapid Financing Instrumen. Namun sumber Bloomberg menilai Lebanon tidak akan dapat menggunakan instrumen tersebut setelah gagal membayar utang kepada IMF pada Maret 2020.
Lebanon menyatakan gagal bayar dalam memenuhi kewajiban utang internasional senilai US$ 30 miliar. Kondisi tersebut berakar pada serangkaian krisis finansial dan politik yang akhirnya menggerus nilai perekonomian Lebanon sekitar 30%.
Kementerian Keuangan Lebanon tidak merespons informasi yang diterima oleh Bloomberg. Namun Pemerintah Lebanon telah menyatakan negosiasi terkait program pendanaan yang lebih luas masih berlangsung dengan IMF.
Negosiasi tersebut dilakukan langsung oleh Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam dan IMF. Adapun fokus negosiasi tersebut telah meruncing ke pembiayaan jangka pendek.
IMF tidak merespons pembicaraan langsung dengan Pemerintah Lebanon terkait pembiayaan cepat untuk menyerap dampak perang Asia Barat. Namun IMF mengakui berinteraksi dengan Lebanon untuk membicarakan manajemen isu krisis ekonomi sampai memitigasi dampak ke perekonomian.
"Diskusi tentang program reformasi komprehensif yang dapat didukung oleh pengaturan IMF sedang berlangsung," kata Juru Bicara IMF.
Sebelumnya, IMF memangkas prospek pertumbuhan global dalam proyeksi terbarunya bulan ini karena lonjakan harga energi yang dipicu oleh perang. Tanpa adanya konflik, IMF mengatakan, pertumbuhan ekonomi global dapat mencapai 3,4%.
Sedangkan Bank Dunia menyiapkan dana US$ 80 miliar hingga US$ 100 miliar atau sekitar Rp 1.360 hingga Rp 1.700 triliun untuk negara-negara terdampak perang. Presiden Bank Dunia, Ajay Banga mengatakan, gelontoran dana tersebut dapat dimobilisasi selama 15 bulan ke depan.
Kucuran dana ini lebih besar dari yang sebelumnya pernah digelontorkan Bank Dunia saat pandemi Covid-19 yakni sebesar US$ 70 miliar. Berdasarkan laporan Reuters, negara-negara yang terdampak dapat mengakses sekitar US$ 20 miliar hingga US$ 25 miliar melalui skema respons krisis. Skema ini memungkinkan penarikan lebih awal hingga 10% dari rencana yang telah disetujui sebelumnya.
Ada pula tambahan US$ 30 miliar hingga US$ 40 miliar yang kemungkinan berasal dari pengalihan tujuan program yang ada dalam waktu sekitar enam bulan.
