Dampak Gejolak Global, Prabowo Jadikan Ketahanan Pangan Fokus Utama Pemerintah
Presiden Prabowo Subianto mengatakan program utama selama pemerintahannya adalah mengamankan ketahanan pangan nasional. Ini karena adanya tantangan geopolitik yang bisa berdampak pada pasokan pangan.
Prabowo menjelaskan target tersebut dipilih setelah melihat perilaku negara produsen pangan terhadap krisis beberapa tahun terakhir. Sebagai contoh, keran ekspor gandum dari Ukraina terpaksa ditutup saat awal perang dengan Rusia dimulai.
"Begitu ada krisis dunia, negara-negara pengekspor pangan akan menutup aksesnya ke pasar global," kata Prabowo dalam Sidang Rapat Paripurna DPR ke-19 masa persidangan V tahun 2025-2026, di Gedung DPR, Rabu (20/5).
Prabowo mengatakan salah satu jenis pangan yang telah mencapai status swasembada adalah beras pada tahun lalu. Menurutnya, pencapaian target tersebut lebih cepat dari yang seharusnya 4 tahun menjadi hanya 1 tahun.
Presiden menjelaskan, capaian tersebut didorong oleh pemangkasan harga pupuk bersubsidi sebesar 20%. Karena itu, Prabowo mengatakan tugas pemerintah selanjutnya dalam tata kelola pupuk adalah memastikan pupuk bersubsidi disalurkan tepat sasaran.
Di sisi lain, Prabowo mendata stok beras yang dikelola pemerintah telah naik dari 3,25 juta ton pada akhir tahun lalu menjadi 5,3 juta ton per 10 Mei 2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari target cadangan minimal beras milik pemerintah sejumlah 2 juta ton setiap saat.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, capaian stok beras pemerintah saat ini telah melampaui rekor tahun sebelumnya atau menjadi 5,3 juta ton.
Menurut dia, stok tersebut masih berpotensi meningkat hingga mencapai 6 juta ton pada akhir bulan ini. “Ini di tanggal 11, mungkin nanti di akhir bulan Mei ini bisa mencapai 6 juta ton,” ujar Rizal di kantornya, Senin (11/5).
