Nganjuk Pasok 30% Bawang Merah Nasional, Teknologi dan Benih Topang Produksi
Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur menjadi salah satu daerah penopang utama pasokan bawang merah nasional. Di tengah ancaman cuaca ekstrem dan kenaikan biaya produksi, petani di wilayah ini tetap menjaga produktivitas melalui penguatan teknologi budidaya, pengelolaan benih, hingga mendapat dukungan infrastruktur dari Bank Indonesia.
Pembina Gapoktan Karya Abadi, Bambang Suparno memperkirakan, Nganjuk saat ini memiliki luas tanam bawang merah sekitar 20 ribu hektare per tahun dengan produksi rerata mencapai 300 ribu ton.
Jumlah tersebut membuat Nganjuk menjadi sentra bawang merah terbesar kedua di Indonesia setelah Brebes. Sekitar 25-30 persen kebutuhan bawang merah nasional dipasok dari Nganjuk.
“Dari 20 ribu hektare itu produksinya mungkin di 300 ribu ton. Artinya Nganjuk saja sudah sekitar 25-30 persen kebutuhan nasional,” kata Bambang kepada Katadata di Rejoso, Nganjuk, Selasa (12/5).
Menariknya, sebagian besar produksi bawang merah di Nganjuk juga dimanfaatkan sebagai benih. Menurut Bambang, lebih dari separuh hasil panen disiapkan untuk memenuhi kebutuhan benih petani di berbagai daerah Indonesia.
“Kami punya varietas Tajuk, tanaman asli Nganjuk yang sudah terbukti beradaptasi sangat bagus di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke sudah menggunakannya,” ujar Ketua Asosiasi Penangkar Benih Bawang Merah Kabupaten Nganjuk tersebut.
Varietas Tajuk menjadi andalan lantaran diyakini memiliki produktivitas tinggi dan mampu bertahan di musim kemarau ataupun musim hujan. Pada musim kemarau, hitung Bambang, produktivitasnya dapat mencapai lebih dari 20 ton per hektare.
Menghadapi El Nino
Di tengah tantangan El Nino dan cuaca kering, ketersediaan air menjadi faktor penting bagi petani bawang merah. Karena itu, petani mulai mengandalkan submersible atau sistem pompa celup untuk mengairi lahan.
“Kita menghadapi El Nino kan kering, ketika kering pasti yang dibutuhkan air. Makanya kemarin kita banyak ajukan proposal di daerah atau provinsi untuk irigasi yang tersumbat dibenahi,” ulas Bambang.
Ia menjelaskan, bantuan submersible turut difasilitasi oleh Bank Indonesia. Teknologi tersebut dinilai lebih efisien dibanding pompa diesel konvensional.
“Dulu satu pompa diesel hanya bisa melayani setengah hektare. Sekarang satu submersible bisa 5 hektare,” imbuhnya.
Gapoktan Karya Abadi telah menjadi klaster binaan BI sejak 2014. BI turut memfasilitasi pembangunan gudang penyimpanan benih dan pengembangan produk olahan bawang merah.
Selain bantuan infrastruktur, pendampingan yang diberikan juga terkait budidaya dan peremajaan tanah melalui pelatihan penggunaan mikroba. Tujuannya, untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Di sisi lain, melalui Kelompok Wanita Tani (KWT), hilirisasi produk bawang merah juga dijalankan. Produk olahan yang dihasilkan antara lain bawang goreng, bawang krispi, sambal bawang, hingga pasta bawang merah.
Menurut Bambang, hilirisasi produk berguna sebagai upaya menjaga pendapatan petani ketika harga bawang segar turun saat panen raya.
Saat ini, harga benih bawang merah juga mengalami kenaikan menjelang musim tanam Juni-Juli. Harga benih sudah berada di kisaran Rp56 ribu - Rp57 ribu per kilogram dan berpotensi naik seiring meningkatnya permintaan.
Kendati harga bawang sedang tinggi, Bambang berharap kondisi tersebut terjadi lantaran meningkatnya kebutuhan pasar, bukan akibat gagal panen akibat cuaca ekstrem.
“Harga tinggi itu jangan karena gagal produksinya. Kami ingin produksi tetap bagus tapi kebutuhannya meningkat,” tutup dia.
