Profil Ketua BGN Nanik Deyang: Bermula dari Wawancara Jadi Dekat dengan Prabowo
Presiden Prabowo Subianto akan mengangkat Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Langkah tersebut dilakukan setelah Kepala Negara mencabut Dadan Hindayana dari jabatan Kepala BGN berdasarkan evaluasi selama 1,5 tahun terakhir.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pergantian tersebut dilakukan setelah mendengar masukan dari banyak pihak. Sebagian pihak yang memberikan masukan adalah masyarakat umum hingga penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
"Perlu tata kelola kuat, koordinasi, dan kepemimpinan yang bisa tepat sasaran dan tepat waktu," kata Prasetyo di Istana Kepresidenan, Selasa (2/6).
Berdasarkan laman resmi MBG, profil Dadan telah diganti dengan profil Nanik mulai hari ini, Rabu (3/6). Nanik tercatat bergabung dalam BGN sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi pada 17 September 2025.
Sebelumnya, Nanik tercatat menjabat dalam Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan atau BP Taskin sebagai Wakil I pada Oktober 2024. Sembari menjabat di BP Taskin, Nanik diangkat sebagai Komisaris PT Pertamina pada 12 Juni 2025 oleh arahan Kementerian Badan Usaha Milik Negara dan PT Danantara Asset Management.
Profil Nanik S Deyang dari Dunia Pers ke Politik
Karier Nanik di dunia jurnalistik bermula setelah lulus sebagai Sarjana Biologi dari Universitas Jenderal Soedirman pada 1991. Perusahaan media pertama Nanik adalah bagian dari kelompok media Kompas Gramedia, yakni Tabloid Bangkit.
Berdasarkan Data Pers Nasional 2014, Nanik melanjutkan karier di media massa dengan menjadi pimpinan di empat perusahaan media berbeda, yakni majalah Femme, tabloid Info Kuliner, tabloid ekonomi Peluang Usaha, dan tabloid The Politic.
Saat menjadi pemimpin redaksi The Politic, Nanik pertama kali mewawancarai Prabowo. Pertemuan itu menjelang Pemilu 2014, sekitar 13 tahun yang lalu.
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan, Dirgayuza Setiawan, yang turut menemani Prabowo mengatakan pertemuan yang awalnya dijadwalkan singkat menjadi berjam-jam.
"Dari pertemuan tersebut lahirlah sebuah wawancara on the record di DPP Gerindra yang sampai hari ini," kata Dirgayuza dalam catatannya.
Setelah pertemuan itu, Nanik terlibat dalam lingkaran politik Prabowo. Dirga menyebut kontribusi Nanik di perjalanan Prabowo jauh melampaui urusan media. "Bu Nanik adalah seorang penggerak," kata dia.
Dirga menyebut Nanik menceritakan beberapa kasus kemanusian sehingga Prabowo turun tangan. Pertama, Nanik mengungkapkan kasus Wilfrida Soik, seorang pekerja migran Indonesia asal Nusa Tenggara Timur yang terancam hukuman mati di Malaysia. "Setelah mendengar cerita itu, Pak Prabowo bergerak mencari dan membiayai tim pengacara terbaik untuk membela Wilfrida," kata Dirga.
Kedua, Nanik juga yang mengusulkan perakitan dan pembagian becak listrik untuk para pengayuh becak lanjut usia. "Ide sederhana, tetapi lahir dari empati yang mendalam," kata Dirga.
Pada 2018, Nanik pernah menjadi perhatian publik dalam kasus berita palsu penganiayaan salah satu anggota Badan Pemenangan Nasional Prabowo, yakni Ratna Sarumpaet. Nanik memberikan kesaksian saat dipanggil oleh Polda Metro Jaya terkait kasus tersebut pada 2018.
Kemudian, saat menjelang Pemilihan Presiden 2019, Nanik menjadi Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional Koalisi Adil Makmur saat Prabowo berpasangan dengan Sandiaga Uno untuk melawan pasangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin.
Sebelum bergabung dengan pemerintahan, Nanik merupakan Wakil Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional atau YGSN pada April 2024. Seperti diketahui, YGSN merupakan yayasan yang bersifat sosial kemanusiaan yang didirikan oleh Presiden Prabowo.
