Lahan Terbatas, Pemprov DKI Terapkan Strategi Baru Tata Ruang Terbuka Hijau
Jakarta -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperluas sekaligus meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau (RTH) sebagai bagian dari upaya mewujudkan kota yang lebih layak huni dan berkelanjutan. Berbagai taman, hutan kota, hingga ruang publik hijau dikembangkan agar dapat dimanfaatkan lebih banyak warga.
Data terbaru mencatat, luas RTH di ibu kota mencapai 3.703 hektare atau setara 5,59% dari total luas wilayah DKI Jakarta. Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 5,35%. Meski menunjukkan tren positif, capaian tersebut masih berada di bawah target RTH sebesar 30% dari luas wilayah kota sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, Hendrianto, mengatakan peningkatan luas RTH merupakan hasil kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD), tidak hanya Dinas Pertamanan dan Hutan Kota.
“Kalau dibandingkan dengan tahun lalu yang berada di angka sekitar 5,35%, per Juni 2026 luas RTH di Jakarta mencapai 5,59%. Ruang terbuka hijau tidak hanya melibatkan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota, tetapi juga merupakan hasil konsolidasi berbagai OPD di lingkungan Pemprov DKI Jakarta,” ungkapnya.
Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, sebaran RTH terbesar berada di Jakarta Timur dengan porsi 30,37%, diikuti Jakarta Utara 24,94%, Jakarta Selatan 23,15%, Jakarta Pusat 11,51%, Jakarta Barat 10,01%, dan Kepulauan Seribu 0,03%.
Menurut Hendrianto, tantangan terbesar dalam menambah luas RTH adalah keterbatasan lahan, terutama di wilayah Jakarta Pusat yang sudah sangat padat.
Pergeseran Pendekatan Pengembangan RTH
Di tengah keterbatasan lahan, Pemprov DKI Jakarta mulai menggeser pendekatan pengembangan ruang hijau dari sekadar mengejar luasan menuju peningkatan kualitas dan fungsi ekologisnya. Pendekatan ini sejalan dengan Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau yang mendorong pemerintah daerah menghadirkan berbagai inovasi untuk mencapai tujuan lingkungan secara lebih efektif.
Menurut Hendrianto, tujuan utama ruang terbuka hijau bukan semata menghadirkan lahan hijau, melainkan mendukung penyerapan karbon, mengurangi panas perkotaan, serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup masyarakat. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta mulai menerapkan berbagai pendekatan baru seperti pembangunan vertical garden, roof garden, hingga pemanfaatan ruang-ruang sisa di bawah jalan layang sebagai area penghijauan.
Salah satu contohnya adalah pengembangan taman vertikal dengan tanaman bougenville yang memiliki kemampuan penyerapan karbon cukup baik. Selain itu, sejumlah area yang sebelumnya tertutup perkerasan atau paving juga mulai dibuka kembali untuk ditanami vegetasi.
Selain penghijauan vertikal, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota juga mengembangkan konsep rain garden di sejumlah lokasi untuk membantu meningkatkan daya resap air sekaligus mengurangi limpasan air hujan yang berpotensi menyebabkan genangan.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang hijau yang tidak hanya mempercantik kota, tetapi juga mampu menjawab berbagai tantangan lingkungan perkotaan, mulai dari perubahan iklim hingga pengendalian banjir.
Taman Bendera Pusaka, Contoh Ruang Publik Terintegrasi
Salah satu hasil pengembangan ruang hijau terbaru di Jakarta adalah Taman Bendera Pusaka yang berada di kawasan Barito, Jakarta Selatan. Taman ini merupakan kawasan ruang publik terintegrasi yang menggabungkan tiga taman dengan berbagai fasilitas untuk mendukung aktivitas masyarakat. Mulai dari lapangan olahraga, area bermain anak, ruang baca, jogging track sepanjang sekitar 1,2 kilometer, hingga tenant makanan dan minuman tersedia dalam satu kawasan.
Selain itu, taman ini juga dirancang dengan memperhatikan aspek inklusivitas sehingga dapat diakses oleh penyandang disabilitas.
Menurut Hendrianto, konsep yang diterapkan di Taman Bendera Pusaka tidak hanya berfokus pada penyediaan ruang hijau, tetapi juga menciptakan pengalaman ruang publik yang membuat masyarakat betah beraktivitas lebih lama.
“Semakin beragam fasilitas dan aktivitas yang tersedia, semakin tinggi kualitas ruang publik tersebut karena mampu menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat,” ujarnya.
Saat ini, pengembangan fasilitas di kawasan tersebut juga terus dilakukan, termasuk pembangunan pet park yang ditujukan untuk komunitas pecinta hewan peliharaan.
Kehadiran Taman Bendera Pusaka mendapat sambutan positif dari warga. Salah satunya Cindy Felita yang mengaku tertarik berkunjung setelah mengetahui informasi mengenai pengembangan kawasan taman tersebut.
Menurutnya, keberadaan taman dengan fasilitas yang lengkap memberikan manfaat nyata bagi warga Jakarta yang sehari-hari disibukkan oleh aktivitas pekerjaan dan mobilitas yang tinggi.
“Fasilitasnya lengkap. Mulai dari fasilitas olahraga, taman bermain anak, bahkan tersedia ruang baca,” ucapnya.
Cindy menilai keberadaan taman seperti Taman Bendera Pusaka menjadi alternatif ruang rekreasi yang mudah dijangkau sekaligus mendukung gaya hidup sehat masyarakat perkotaan.
Ke depan, pengembangan ruang hijau Jakarta tidak hanya dilakukan melalui pembangunan taman baru. Sejumlah proyek lain juga tengah dikembangkan, seperti revitalisasi Taman Puring dengan pembangunan microlibrary inklusif serta penataan kawasan Simpang Susun Semanggi yang dirancang menjadi ruang publik baru bagi warga.
Di tahun 2026, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta juga menargetkan penambahan RTH di 10 lokasi baru yang saat ini masih berada dalam tahap pengadaan.
Meski tantangan untuk mencapai target 30% ruang terbuka hijau masih besar, Hendrianto optimistis Jakarta akan terus mencatatkan pertumbuhan ruang hijau dari tahun ke tahun. Menurutnya, yang tidak kalah penting adalah memastikan setiap ruang hijau yang dibangun mampu memberikan manfaat ekologis dan sosial yang nyata bagi masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, ruang terbuka hijau menjadi bagian penting dari transformasi Jakarta menuju kota global yang lebih sehat, inklusif, dan berkelanjutan.


