Buntut Lima Calon Manajer Meninggal, Kemenhan Hapus Latihan Militer Kopdes
Kementerian Pertahanan menghapuskan latihan dengan senjata ataupun taktik militer dalam pelatihan untuk peserta program Koperasi Desa/Kelurahan atau Kopdes Merah Putih. Keputusan ini buntut meninggalnya lima calon manajer Kopdes usai menerima latihan militer.
Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan mengatakan telah merevisi program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia atau SPPI. Nantinya, program SPPI akan fokus memberikan pendidikan dan pelatihan di dalam kelas seperti terkait nasionalisme, patriotisme, dan kedisiplinan.
"Dari segi waktu juga berkurang juga. Tadinya lama pendidikan sama seperti komponen cadangan, yakni selama 1 bulan. Dalam revisi ini, pendidikan bela negara juga perpendek menjadi 2 pekan," kata Donny di Gedung DPR, Rabu (1/7).
Donny mengatakan dua pekan lainnya akan diisi peserta SPPI dengan pendidikan dan pelatihan manajerial. Menurutnya, periode pelatihan dalam dua pekan ini akan disesuaikan dengan arah program SPPI tiap peserta.
Setidaknya ada tiga program prioritas pemerintah yang akan menyerap lulusan program SPPI, yakni Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan Koperasi Nelayan Merah Putih. Setiap kementerian yang bertanggung jawab atas program tersebut akan memberikan modul khusus kepada peserta SPPI.
"Namun tempat pembelajaran SPPI tetap dilakukan di enam satuan pendidikan TNI, hanya waktu pelatihan yang berubah," katanya.
Perketat Pemeriksaan Kesehatan
Selain waktu pendidikan, Donny berencana untuk memperketat pemeriksaan dan penyediaan layanan kesehatan di setiap satuan pendidikan. Saat ini, program SPPI telah menyediakan dokter, perawat, petugas kesehatan, ambulans, dan standar prosedur operasi kesehatan di setiap lokasi pendidikan.
Terakhir, Donny telah meluncurkan investigasi untuk mengetahui penyebab wafatnya lima peserta SPPI belum lama ini. Hal tersebut dilakukan lantaran dua dari lima peserta yang wafat disebabkan oleh penularan penyakit paru-paru.
Donny belum dapat memastikan kapan investigasi tersebut dapat rampung. Namun proses penyelidikan ditargetkan rampung dalam waktu dekat untuk memastikan program SPPI terus berjalan.
"Kami ingin investigasi ini secepatnya selesai, karena hasil investigasi ini penting untuk digunakan dalam pelaksanaan pendidikan yang berlangsung saat ini," ujarnya.
