Prabowo Sebut Pendapatan dari Blok Masela untuk Bangun Sekolah dan Rumah Sakit
Presiden Prabowo Subianto mengatakan Proyek LNG Abadi Masela atau Blok Masela akan menjadi salah satu sumber pendapatan negara untuk membiayai berbagai program pembangunan, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, hingga infrastruktur.
Prabowo menyampaikan hal itu saat memberikan sambutan seremoni peletakan batu pertama atau groundbreaking Proyek Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7). Prabowo mengikuti peresmian secara virtual dari Istana Merdeka Jakarta.
Dalam sambutannya, ia mengatakan hasil menjelaskan pendapatan negara dari proyek energi ini akan digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, termasuk membangun fasilitas kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat.
“Kita butuh uang untuk membangun pelayanan kesehatan yang terbaik. Kita butuh uang untuk membayar gaji-gaji guru sehingga sekolah-sekolah kita tidak kalah dengan sekolah-sekolah di luar negeri,” kata Prabowo, sebagaimana disiarkan oleh kanal Youtube Sekretariat Presiden.
Menteri Pertahanan 2019-2024 itu juga akan memanfaatkan penerimaan tersebut untuk membayar gaji guru agar kualitas pendidikan nasional mampu bersaing dengan negara lain.
Prabowo juga menyoroti peningkatan kesejahteraan aparatur negara turut menjadi bagian dalam menciptakan pelayanan publik yang lebih optimal. “Kita butuh uang untuk membayar semua pegawai negeri kita dengan baik. Kita butuh uang untuk membangun prasarana yang penting untuk kehidupan yang modern. Dengan demikian, proyek semacam ini sangat penting. Saya sangat menghargai dimulainya proyek ini,” ujarnya.
Prabowo mengatakan Proyek Strategis Nasional di sektor minyak dan gas bumi (Migas) ini disebut-sebut menjadi salah satu investasi energi terbesar di Indonesia dengan nilai US$20,9 miliar atau sekitar Rp 377,54 triliun.
Proyek gas yang berlokasi sekitar 180 kilometer (km) di sebelah barat daya Kabupaten Kepulauan Tanimbar digarap melalui skema cost recovery oleh konsorsium INPEX Masela Ltd. sebagai operator dengan kepemilikan 65%, Pertamina 20%, dan Petronas 15%.
Proyek lapangan gas itu dirancang memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, menyalurkan gas pipa domestik sebesar 150 MMSCFD, serta menghasilkan kondensat sekitar 35 ribu barel per hari.
Fasilitas utama yang dibangun meliputi 15 sumur pengembangan, sistem bawah laut (subsea umbilical, riser and flowline/SURF), kilang LNG darat (onshore LNG), kapal penyimpanan dan bongkar muat terapung (FPSO), jaringan pipa gas domestik, serta fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS).
Hingga pertengahan Juli 2026, kemajuan tahap Front-End Engineering Design (FEED) telah mencapai 79,56%. Adapun Kilang LNG Abadi akan dibangun di Desa Lermatang, Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi salah satu pusat industri energi terbesar di Indonesia Timur. Berbagai perizinan strategis dan penyelesaian desain fasilitas utama terus berjalan sesuai jadwal menuju Final Investment Decision (FID) pada akhir tahun 2026.
