Perang Timur Tengah Berlanjut, Tidak Ada Korban WNI

Andi M. Arief
16 Juli 2026, 17:05
Umat Islam dari berbagai negara melakukan tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Rabu (17/6/2026) waktu setempat. Kementerian Haji dan Umrah mencatat hingga hari ke-57 operasional haji atau hari ke-16 masa pemulangan, total kepulangan gelombang pert
ANTARA FOTO/Citro Atmoko/sg
Umat Islam dari berbagai negara melakukan tawaf di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Rabu (17/6/2026) waktu setempat. Kementerian Haji dan Umrah mencatat hingga hari ke-57 operasional haji atau hari ke-16 masa pemulangan, total kepulangan gelombang pertama melalui Bandara Jeddah mencapai 104.308 orang dan total kepulangan gelombang kedua yang telah diberangkatkan melalui Bandara Madinah tercatat mencapai 5.961 orang.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menyatakan semua Warga Negara Indonesia atau WNI di Timur Tengah belum terdampak dalam babak baru perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Arrmanatha mengatakan sebagian WNI yang ada di Kawasan Teluk saat ini sedang menjalani ibadah umrah. Menurutnya, tidak ada WNI yang terdampak dari penutupan bandara akibat konflik tiga negara tersebut.

"Sampai saat ini, tidak ada laporan yang kami terima bahwa ada jemaah asal Indonesia di bandara yang kini ditutup oleh pemerintah Arab Saudi akibat perang," kata Arrmanatha di Gedung DPR, Kamis (16/7).

Arrmanatha menjelaskan bandara yang ditutup oleh pemerintah Arab Saudi bukan Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah. Menurutnya, bandara yang ditutup berlokasi 600 kilometer dari Jeddah, Arab Saudi.

Arrmanatha mengatakan telah mengirimkan perwakilan dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Jeddah untuk memeriksa kondisi bandara yang ditutup tersebut. Berdasarkan laporan, pesawat yang keluar dari bandara tersebut adalah penerbangan berbiaya rendah atau LCC dengan tujuan Singapura.

Selain itu, Arrmanatha menekankan tidak ada WNI di Timur Tengah yang cedera maupun luka-luka setelah dilanjutkannya konflik ketiga negara tersebut. "Sampai saat ini belum ada gangguan atau dampak kepada WNI di sana," katanya.

Secara umum, konflik semakin meluas setelah Iran pada 12 Juli lalu menyerang enam negara Teluk, yakni Qatar, Oman, Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait, sebagai respons atas serangan militer AS terhadap Iran.

Ketegangan itu juga mendorong harga minyak dunia naik selama empat hari berturut-turut karena pasar mengantisipasi potensi gangguan pasokan, terutama jika distribusi minyak melalui Selat Hormuz terganggu.

Guru Besar Bidang Geopolitik Timur Tengah Universitas Gadjah Mada (UGM), Siti Mutiah Setiawati, menilai Perang Iran mengguncang keseimbangan keamanan di kawasan Teluk. Ini karena Iran merupakan salah satu negara terbesar sekaligus produsen minyak utama di kawasan tersebut.

“Iran itu dominan dari segi ukuran negaranya setelah Arab Saudi, dan juga penghasil minyak nomor dua setelah Arab Saudi. Oleh karena itu menyerang Iran, itu sama saja menyerang kawasan Teluk itu,” kata Siti saat dihubungi lewat sambungan telepon pada Kamis (16/7).

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...