Lodewyk Pusung Ungkap Awal Mula BGN, Sebut Burhanuddin Abdullah hingga Sjafrie
Eks Wakil Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) Lodewyk Pusung menceritakan proses pembentukan BGN sebelum Presiden Prabowo Subianto menjabat. Dia mengatakan, pada awalnya mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Burhanuddin Abdullah ditunjuk sebagai Ketua BGN.
Burhanuddin dipercaya karena menjabat sebagai Menko Perekonomian selama tiga bulan pada Juni-Agustus 2021. Sebelum menjadi Komisaris Utama PT PLN sejak 2024, dirinya sempat menjadi Gubernur Bank Indonesia pada 2003-2008.
"Kenapa akhirnya Ketua BGN diduduki Dadan Hindayana? Sebab, waktu itu saya dengar Pak Burhanuddin mengundurkan diri," kata Lodewyk di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (20/8).
Lodewyk menyampaikan dirinya mendapatkan penugasan menjadi Wakil Ketua BGN di kediaman Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada 4 April 2024.
Ketika itu Sjafrie menggunakan kode "08" untuk menyebut Presiden Prabowo lantaran Kepala Negara masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan saat itu. Saat itu, Sjafrie menyampaikan Kepala Negara menunjuk dirinya sebagai "Wakil Makan Siang Gratis".
"Saat itu, namanya Wakil Makan Siang Gratis karena itu yang kami kampanyekan selama Pemilu 2024: Makan Siang Gratis," ujarnya.
Pada 2024, Lodewyk memaparkan kelembagaan BGN dibentuk atas pengawasan tim asistensi yang terdiri dari purnawirawan militer. Seluruh anggota tim asistensi tersebut kini menjadi pejabat negara, yakni Menhan Sjafrie, Menteri Koordinator Politik dan keamanan Djamari Chaniago, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf, dan Wakil Menteri Sekretariat Negara Bambang Eko Suhariyanto.
Lodewyk menilai BGN mulai bermasalah pada Januari 2025 lantaran pemerintah baru mencetak 109 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Sementara itu, Presiden Prabowo menargetkan program Makan Bergizi Gratis dapat melayani hingga 17 juta penerima manfaat pada Agustus 2025.
Lodewyk menghitung total SPPG yang dibutuhkan untuk mencapai target tersebut sekitar 5.000 unit. Pada saat yang sama, Lodewyk menyampaikan Kepala Negara tidak menyediakan anggaran sama sekali kepada BGN untuk membangun dapur.
Selain itu, Lodewyk mengatakan Presiden Prabowo menginstruksikan BGN tidak boleh membeli lahan untuk keperluan SPPG. Alhasil, BGN saat itu memutuskan untuk menggunakan lebih dari 1.300 titik lahan milik TNI di penjuru negeri.
"Kalau tidak salah tanggal 2 Februari 2025 atau 3 Februari 2025. Perintah beliau adalah: tidak ada beli lahan, gunakan skema pinjam-pakai," ujarnya.
Lodewyk mengaku tidak mengetahui proses sampai terjadinya Nota Kesepahaman antara BGN dan TNI pada Februari 2025. Kesepakatan tersebut pada intinya mengizinkan militer untuk mengelola 2.000 unit SPPG.
Namun Lodewyk menyampaikan total lahan TNI yang dapat digunakan sebagai SPPG hanya mencapai 542 unit. Menurutnya, keterbatasan anggaran pemerintah membuat total SPPG yang terbangun dari nota kesepahaman tersebut hanya mencapai 315 unit.
"SPPG yang dibangun di luar 315 unit tersebut merupakan partisipasi mitra untuk membantu BGN membuat dapur," katanya.
