Polda Ungkap Kronologi Tewasnya Pedagang Cermin di Tengah Kerusuhan Pejompongan
Polda Metro Jaya mengungkap kronologi meninggalnya seorang pedagang cermin saat peristiwa kericuhan yang terjadi di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8).
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan proses evakuasi terhadap korban tidak dapat dilakukan secara serampangan. Pihaknya harus memperhitungkan faktor keamanan petugas dan menunggu momentum yang tepat mengingat situasi di lokasi kejadian masih diwarnai kerusuhan.
"Begitu lokasi sudah berhasil diamankan, Tim Biddokkes Polda Metro Jaya langsung mengevakuasi seorang laki-laki yang ditemukan dalam kondisi pingsan," kata Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan, korban sempat dilarikan ke fasilitas medis terdekat, yakni Rumah Sakit Mintohardjo untuk mendapatkan penanganan darurat. Namun, korban dinyatakan meninggal dunia saat menjalani perawatan medis di rumah sakit tersebut.
"Guna keperluan proses identifikasi dan visum, jenazah korban kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Pihak kepolisian juga telah menemui keluarga almarhum, yakni anak kandung korban untuk berkoordinasi secara langsung," ujar Budi.
Ia menjelaskan, penyidik telah mengajukan permohonan prosedur otopsi untuk memastikan penyebab pasti kematian korban. Namun, pihak keluarga menolak rencana tindakan medis tersebut.
Sebelumnya, pedagang cermin bernama Bambang Setiyawan (59) diketahui meninggal dunia saat terjadi kericuhan pada Kamis (27/8) malam. akhirnya diketahui berada di Rumah Sakit (RS) Polri, demikian diceritakan istrinya, Sudarsi (56).
Istri korban, Sudarsi (56) bercerita masih sempat menemani Bambang berjualan cermin di Pejompongan hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Pasangan tersebut biasanya baru menutup tempat usahanya sekitar pukul 18.00 WIB.
Namun karena melihat massa mulai berdatangan, Sudarsi meminta Bambang agar menutup tempat usahanya lebih awal.
"Sebenarnya kami belum tutup. Tutupnya itu jam 18.00. Tapi karena saya lihat massa sudah banyak, akhirnya saya bilang sama Bapaknya. Itu massa sudah banyak, tutup'," kata Sudarsi saat ditemui wartawan, Jumat.
