Polusi Udara Pontianak Tembus Level Bahaya, Warga Diimbau Waspada
Kualitas udara di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, mencapai level berbahaya pagi ini, Selasa (1/9). Dari pantauan situs IQAir pukul 07.32 WIB, kualitas udara Pontianak tergolong berbahaya dengan poin AQI hingga 605.
Dalam kategori tersebut, semua orang berisiko mengalami efek kesehatan. Oleh karena itu, IQAir menyarankan setiap orang untuk menghindari olahraga di luar ruangan, serta merekomendasikan penggunaan masker polusi di dalam dan luar ruangan.
Masyarakat dianjurkan hanya keluar rumah jika diperlukan, terus memperhatikan arahan otoritas kesehatan setempat, dan memastikan hunian tetap tertutup untuk menghindari udara tercemar.
"Setiap orang berisiko tinggi mengalami iritasi parah dan efek kesehatan negatif yang dapat memicu penyakit pernapasan dan kardiovaskular," demikian dikutip dari laman IQAir, pada Selasa (1/9).
Memburuknya kualitas udara Pontianak terjadi seiring insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut. Saat ini, Pemerintah Kota Pontianak tengah bersiap meningkatkan layanan fasilitas kesehatan, memperhitungkan potensi lonjakan pasien akibat terdampak kabut asap karhutla.
Selain Pontianak, beberapa wilayah lainnya juga tercatat memiliki kualitas udara buruk pagi ini. Berikut daftarnya:
- Pontianak, Kalimantan Barat, poin AQI 605 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 378 µg/m³, masuk kategori berbahaya,
- Surabaya, Jawa Timur, poin AQI 182 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 100 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Palembang, Sumatra Selatan, poin AQI 180 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 97 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Kota Jambi, Jambi, poin AQI 175 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 89,7 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Palangka Raya, Kalimantan Tengah, poin AQI 172 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 85 µg/m³, masuk kategori tidak sehat.
Sementara itu, Tangerang di Banten memiliki kualitas udara paling sehat pagi ini dengan poin AQI 70. Di susul Medan di Sumatra Utara dengan poin AQI 73. Namun, kualitas udara keduanya masih tergolong dalam kategori sedang.
Di lingkup global, kota besar dengan kualitas udara paling sehat hanya mencatatkan poin AQI 7, tepatnya di Kathmandu, Nepal. Berikutnya, ada Dublin di Irlandia dengan poin AQI 16 dan Seoul di Korea Selatan dengan poin AQI 17. Kualitas udara ketiganya masuk kategori baik.
Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, sejumlah kota besar di dunia justru memiliki kualitas udara yang tergolong tidak sehat. Termasuk, Kuching di Malaysia yang terdampak kabut asap dari karhutla di Indonesia. Berikut daftarnya:
- Kuching, Malaysia, poin AQI 618 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 384,5 µg/m³, masuk kategori berbahaya,
- Dubai, Uni Emirat Arab, poin AQI 178 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 94 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, poin AQI 164 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 74,2 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Jakarta, Indonesia, poin AQI 152 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 57,3 µg/m³, masuk kategori tidak sehat,
- Manila, Filipina, poin AQI 136 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 49,9 µg/m³, masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Indeks AQI adalah konsentrasi polutan udara yang menunjukkan kategori kualitas udara. Rumus indeks mempertimbangkan enam polutan utama, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon.
Angka AQI keseluruhan pada waktu tertentu ditentukan oleh polutan paling berisiko dengan angka AQI paling tinggi. Indeks AQI berkisar dari 0 sampai 500 dengan pembagian enam kategori.
Kategori baik memiliki rentang skor AQI 0-50, kategori sedang memiliki rentang skor 51-100, dan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif berada pada rentang skor 101-150.
Sementara itu, kategori tidak sehat dengan rentang skor AQI di angka 151-200, kategori sangat tidak sehat 200-299, dan kategori berbahaya pada rentang 300-500.
Kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Sementara itu, kualitas udara kategori berbahaya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi manusia.
