Enam Tahun JAKI, Perkuat Layanan Publik Jakarta Berbasis Digital
Di era digital, kemudahan akses informasi pemerintahan merupakan aspek penting dalam pelayanan publik yang baik. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melalui JAKI (Jakarta Kini) menyediakan informasi dan pelayanan publik yang lebih efisien.
Super-apps itu pun telah dikembangkan seiring dengan perkembangan teknologi. Terbaru, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai diterapkan dalam ekosistem JAKI untuk mendukung pengelolaan laporan masyarakat.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik Provinsi DKI Jakarta Marulina Dewi menyampaikan, adopsi AI secara menyeluruh pada aplikasi JAKI saat ini masih dalam tahap pengembangan. Namun, teknologi pendeteksi gambar berbasis AI (AI image detection) telah diterapkan pada sistem customer relationship management (CRM).
“Teknologi ini berfungsi membantu validator memverifikasi foto sebagai bukti tindak lanjut laporan yang dilakukan petugas,” ujar Dewi, kepada Katadata.
Dengan bantuan AI, Dewi menambahkan, sistem dapat membantu memastikan apakah gambar yang diunggah merupakan foto asli atau hasil rekayasa menggunakan AI.
Pengembangan JAKI tidak hanya dilakukan dari sisi pemanfaatan AI, tetapi juga menyasar aspek teknis untuk meningkatkan performa dan pengalaman pengguna.
Dewi mengungkapkan, sejak diluncurkan pada 2019, JAKI telah mengalami sejumlah pengembangan, mulai dari redesain antarmuka dan pengalaman pengguna (UI/UX), perubahan tata letak fitur, hingga pembaruan arsitektur sistem.
Salah satu pengembangan terbaru adalah transisi arsitektur sistem dari monolithic menjadi microservices. “Perubahan teknis yang terbaru ini memudahkan skalabilitas server, pemeliharaan sistem, serta pengembangan fitur baru secara lebih cepat dan independen,” terang Dewi.
Sebagai platform yang mengintegrasikan berbagai layanan pemerintahan, JAKI juga menjadi salah satu kanal bagi masyarakat untuk menyampaikan laporan terkait persoalan di Jakarta. Salah satu jenis laporan yang paling banyak diterima berkaitan dengan kondisi jalan.
Kepala Unit Pengelola Jakarta Smart City Ponirin Ariadi Limbong mengatakan, JAKI menyediakan mekanisme bagi warga untuk memantau perkembangan laporan yang telah disampaikan hingga dinyatakan selesai.
“Sistem memfasilitasinya melalui dua cara, yakni riwayat laporan yang memungkinkan pengguna memantau progres tindak lanjut laporan dan notifikasi otomatis yang memberi tahu pengguna terkait perubahan status laporan,” terang Ponirin.
Di balik kemudahan tersebut, integrasi berbagai layanan pada JAKI dilakukan melalui sejumlah mekanisme yang disesuaikan dengan karakteristik sistem pada masing-masing Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau dinas terkait.
Pertama, melalui integrasi application programming interface (API), yang memungkinkan pertukaran data secara langsung antara server JAKI dan sistem milik dinas terkait.
Dengan mekanisme ini, data seperti tagihan pajak atau jadwal layanan fasilitas kesehatan dapat ditampilkan langsung melalui antarmuka JAKI sehingga memberikan pengalaman yang lebih terintegrasi bagi pengguna.
Kedua, melalui integrasi webview. Dalam mekanisme ini, JAKI menampilkan halaman situs milik dinas terkait di dalam aplikasi. Dengan begitu, masyarakat tetap dapat mengakses layanan tersebut melalui JAKI tanpa harus membuka peramban atau browser eksternal.
Ketiga, melalui integrasi launcher, app link, atau redirect. Pada mekanisme ini, JAKI berfungsi sebagai pintu masuk menuju layanan digital milik dinas terkait.
Enam Tahun Perjalanan JAKI
Diluncurkan September 2019 lalu, JAKI dikembangkan sebagai city super app dan one-stop-service untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat dengan mengutamakan efisiensi dan efektivitas.
Enam tahun perjalanannya, JAKI telah memiliki 101 fitur layanan publik yang terintegrasi, dengan lima fitur favorit warga yakni lapor warga, pajak, berita, transportasi publik, dan antrean fasilitas kesehatan (faskes).
Hingga 2026, JAKI tercatat telah diunduh sebanyak lebih dari tujuh juta kali di perangkat berbasis Android dan iOS dengan 12.292 pengguna aktif harian. Merujuk data Diskominfotik, sebanyak 98,6 persen laporan telah terselesaikan dari total 764.596 laporan.
"Kami terus mengembangkan JAKI, mulai dari integrasi Satu Data Jakarta, penambahan layanan publik, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memastikan setiap laporan warga dapat diverifikasi dan ditindaklanjuti secara akurat," kata Dewi, dikutip dari Antara.
Berbagai pengembangan tersebut menunjukkan upaya Pemprov DKI Jakarta untuk menjadikan JAKI bukan sekadar aplikasi layanan publik, tetapi sebagai ekosistem digital yang menghubungkan masyarakat dengan berbagai layanan pemerintahan.
“Ke depan, kami terus berupaya agar JAKI dapat menjadi platform yang semakin terintegrasi, sehingga masyarakat bisa mendapatkan layanan publik dengan lebih mudah, cepat, dan transparan,” ujar Ponirin.
