Houthi Klaim Kuasai Pesisir Yaman, Perang Iran - AS Potensi Meluas ke Arab Saudi
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi semakin meluas di Timur Tengah setelah kelompok Houthi di Yaman meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi. Perkembangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan setelah Iran menuding AS tengah mempersiapkan serangan baru.
Melansir pemberitaan Associated Press (AP) pada Senin (21/9), seorang pejabat senior Houthi yang didukung Iran memperingatkan negara-negara agar tidak bergabung dengan Arab Saudi dalam konflik yang kembali berkobar di Yaman.
Anggota Biro Politik Houthi, Mohamed al-Bukhaiti, mengatakan kelompoknya telah memperluas penguasaan wilayah di Yaman bagian barat, termasuk memblokade Selat Bab el-Mandeb sebagai salah satu jalur pelayanan yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Dalam wawancara dengan AP, al-Bukhaiti mengatakan Houthi tidak berniat menyerang kapal-kapal AS di Laut Merah. Namun, kelompok tersebut tetap menyampaikan ancaman terhadap seluruh aktivitas yang berkaitan dengan Arab Saudi. "Kami tidak menargetkan Amerika Serikat maupun negara lain di selat tersebut, dengan satu-satunya pengecualian adalah musuh kami, Arab Saudi," al-Bukhaiti kepada AP.
Serangan Houthi terhadap Saudi terjadi setelah koalisi pimpinan Riyadh melancarkan serangan ke Bandara Sanaa, Yaman, yang turut menghambat penerbangan dari Iran. Serangan tersebut mencegah sebuah pesawat Iran yang membawa delegasi Houthi mendarat di Sanaa. Houthi membalas serangan itu dengan mengirim drone dan rudal ke Riyadh dan fasilitas Saudi Aramco di Yanbu.
AP melaporkan perkembangan tersebut telah meningkatkan ketegangan lintas perbatasan antara Saudi dan Houthi di Yaman.
Al-Bukhaiti mengatakan serangan Houthi terhadap Arab Saudi akan terus berlangsung sampai Riyadh mengakhiri blokade selama satu dekade terhadap wilayah-wilayah Yaman yang dikuasai Houthi. Ia juga menuntut Arab Saudi mengizinkan kapal-kapal mencapai pelabuhan yang berada di bawah kendali kelompok politik-militer tersebut di sepanjang Laut Merah.
Di sisi lain, Houthi juga menyatakan bersedia kembali ke meja perundingan dengan syarat blokade Saudi terhadap Yaman dihentikan. Kemajuan pasukan pemberontak di Yaman membuat Houthi menguasai kota pelabuhan penting Mokha serta sejumlah pulau strategis di Laut Merah. Penguasaan wilayah tersebut memungkinkan mereka memantau lalu lintas pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb yang menjadi jalur bagi 12% perdagangan dunia.
Di sisi lain, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, yang selama ini terpecah ke dalam berbagai faksi, menarik diri dari wilayah tersebut.
Lebih jauh, Houthi juga menyatakan blokade terhadap pelayaran Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah. Mereka menyerang kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi serta fasilitas minyak di dalam wilayah kerajaan tersebut.
Arab Saudi dan sekutunya telah lama kesulitan membendung Houthi dan mungkin tergoda untuk mencari solusi diplomatik guna menghentikan konflik.
Upaya itu pada akhirnya membutuhkan konsesi AS kepada Iran, satu-satunya negara yang dinilai memiliki pengaruh terhadap Houthi. Namun, negosiasi Washington dengan Teheran mengenai perang mereka sendiri telah runtuh beberapa pekan lalu. "Kami belum menutup pintu bagi perdamaian," kata Mahdi al-Mashat, Presiden Dewan Politik Tertinggi Houthi, pada Minggu (20/9).
Sementara itu, situasi regional semakin tegang setelah Iran menuding AS tengah mempersiapkan pengeboman baru terhadap negaranya. The Guardian pada Minggu (20/9) melaporkan Presiden Donald Trump memberikan sinyal bahwa akan ada perkembangan besar dalam waktu dekat.
Iran kemudian mengancam akan melakukan pembalasan terhadap kepentingan AS apabila Washington kembali melancarkan serangan. Di tengah ketegangan tersebut, serangan Houthi terhadap Arab Saudi, khususnya terhadap fasilitas minyak, menambah kekhawatiran bahwa konflik Iran-AS dapat membuka front baru di kawasan.
The Guardian mencatat AS menganggap Houthi sebagai kelompok proksi Iran, meskipun Iran menolak tuduhan tersebut. Perkembangan di Yaman juga menjadi perhatian karena penguasaan wilayah pesisir Laut Merah oleh Houthi berpotensi mengganggu jalur pelayaran internasional. Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur strategis bagi perdagangan dan pengiriman energi dunia.
Al-Bukhaiti mengklaim penguasaan kelompoknya atas pesisir barat Yaman telah mengubah keseimbangan kekuatan dalam konflik di negara tersebut. Menurutnya, kondisi itu membuat posisi pemerintah de facto Houthi yang berbasis di Sanaa menjadi lebih kuat. "Pada akhirnya, (Arab Saudi) kehilangan kartu paling penting yang mereka miliki: pesisir barat," ujarnya.
Situasi semakin kompleks setelah Arab Saudi meminta dukungan militer AS menyusul perebutan sejumlah pelabuhan strategis di Yaman oleh Houthi. Namun, Trump menolak permintaan tersebut. Sikap Trump turut dipengaruhi oleh langkah Houthi untuk mencegah AS terlibat dalam perang mereka dengan Arab Saudi.
Houthi telah memberikan komitmen kepada pejabat AS bahwa mereka hanya akan menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah. Tekanan terhadap anggaran Pentagon serta menipisnya persediaan amunisi akibat konflik dengan Iran juga membuat AS enggan memperluas medan perang.
Presiden AS, Donald Trump, pada akhir pekan lalu mengatakan pemerintahannya telah melakukan pembicaraan dengan Houthi. Namun, ia tidak menjelaskan kapan pembicaraan tersebut berlangsung.
"Kelompok Houthi menghubungi kami dan mereka tidak ingin berperang dengan kami. Mereka jauh lebih memilih agar kami tidak terlibat dan mereka membiarkan sebagian besar kapal melewati Laut Merah," kata Trump.
