Kemarau Panjang, Jakarta Pacu Hujan Lewat OMC hingga Buka Opsi Olah Air Laut

Ajeng Dwita Ayuningtyas
23 September 2026, 08:30
Jakarta
Katadata/Fauza Syahputra
Personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengangkut galon milik warga terdampak kekeringan saat penyaluran air di Cilandak Timur, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan pada Selasa (22/9), setelah operasi modifikasi cuaca (OMC) dilakukan dengan memanfaatkan peluang pertumbuhan awan hujan. Turunnya hujan diharapkan dapat meluruhkan polusi di udara dan menambah ketersediaan air di tengah musim kemarau.

OMC dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta sejak 18 September hingga 22 September 2026, menindaklanjuti hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Perusahaan Umum Daerah Air Minum Jaya atau PAM Jaya. 

“BPBD DKI Jakarta melaksanakan OMC untuk menambah curah hujan mulai 18 September 2026 sampai 20 September dan perpanjang sampai 22 September,” demikian dikutip dari Instagram resmi BPBD DKI Jakarta, Rabu (23/9).

Dalam unggahan tersebut disampaikan, OMC pada Senin (21/9) dilakukan di wilayah Depok dan Bogor. OMC juga sempat dilakukan di wilayah DKI Jakarta dan Tangerang Selatan.

Sebelumnya, Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, OMC dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer dan potensi hujan lokal.

“Khusus Jabodetabek kami melihat bahwa ada peluang pertumbuhan awan hujan yang cukup baik di beberapa waktu, juga hingga sepekan ke depan. Maka untuk meningkatkan intensitas dan luasan (hujan) dilakukan OMC,” ujar dia, dalam Konferensi Pers pada Selasa (22/9).

Andri lalu mengatakan, OMC berperan untuk menguatkan peluang hujan yang sudah terbentuk di atmosfer, setidaknya untuk menambah ketersediaan air dan membilas partikel polusi di udara. Air hasil hujan modifikasi pun tidak berbahaya sama sekali.

“Karena menggunakan bahan food grade, jadi natural, tidak ada sedikitpun efek samping dari hujan yang terjadi,” ucap dia. 

Jakarta Masuk Peta ‘Merah’ Kekeringan

Berdasarkan peta Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis yang dirilis oleh BMKG, Jakarta masuk dalam kategori ‘siaga’ dan ‘awas’ pada desarian (10 harian) III September 2026. Rincinya, status siaga untuk wilayah Jakarta Barat, dan sisanya tergolong awas kekeringan.

Kondisi kekeringan akibat kemarau ini di antaranya berpengaruh pada pendistribusian air bersih yang dilakukan oleh PAM Jaya. 

“PAM Jaya menginformasikan saat ini masih terjadi penurunan kualitas air baku di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Hutan Kota, Jakarta Barat, milik PT Jakarta Utilitas Propertindo (JUP) dampak musim kemarau panjang,” demikian tertulis dalam Instagram resmi perusahaan.

Hingga kemarin, suplai air berkurang atau terhenti sementara di beberapa wilayah, mencakup Cengkareng Barat, Cengkareng Timur, Pegadungan, dan Tegal Alur. 

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pun sempat mengungkap opsi untuk mengolah air laut menjadi air tawar dengan teknologi desalinasi, untuk mengantisipasi kekurangan air bersih imbas kekeringan.

Namun, opsi tersebut baru bisa dimulai setelah pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall dirampungkan. 

“Dengan gampang Pemerintah DKI Jakarta melalui PAM Jaya, kami siap untuk melakukan itu,” ungkap Pramono, dikutip dari Antara.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...