Prabowo Undang 17 Akademisi ke Istana, Bahas Mitigasi Karhutla di Lahan Gambut
Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah akademisi dan pakar lingkungan ke Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (24/9). Pertemuan tersebut utamanya membahas penanganan lahan gambut secara lebih mendalam.
Seperti diketahui, lahan gambut hingga kini masih menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah di Tanah Air.
“Siang ini Pak Presiden akan berdiskusi dengan banyak akademisi, membahas penanganan lahan gambut yang tahun ke tahun selalu terbakar,” kata Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya, mengutip siaran pers yang diterbitkan Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Kamis (24/9).
Pertemuan hari ini menjadi tindak lanjut dari arahan Prabowo saat memimpin rapat terbatas di Istana Merdeka pada 16 September lalu. Kala itu, presiden menekankan urgensi penanganan gambut secara menyeluruh dengan melibatkan para pakar, akademisi, serta lembaga penelitian.
“Saya ingin langsung bertatap muka dengan para pakar gambut yang ada di Indonesia, dan juga yang dari luar negeri,” kata Prabowo dalam rapat terbatas yang digelar secara hybrid di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (16/9).
Kepala negara juga meminta agar pembahasan melibatkan berbagai unsur, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta fakultas-fakultas di perguruan tinggi. “Saya minta kita bahas benar-benar masalah gambut ini, dan kita mulai ambil langkah-langkah yang benar-benar menyeluruh untuk kita selesaikan,” ujarnya.
Kepala BRIN, Arif Satria mengatakan, rapat kali ini secara khusus membahas mitigasi karhutla di kawasan gambut. Selain penanganan karhutla, rapat juga membahas keberlanjutan pengelolaan lahan gambut yang luasnya mencapai sekitar 24 juta hektare (ha).
Berdasarkan regulasi yang berlaku, pemanfaatan lahan gambut dibatasi maksimal 70%, sedangkan 30% lainnya diperuntukkan sebagai fungsi lindung.
“Sehingga, kita juga harus memikirkan agar pemanfaatan lahan gambut secara berkelanjutan benar-benar dirancang dengan baik. Sebab, terdapat sekitar 41 juta penduduk yang hidup di kawasan hidrologis gambut,” kata Arif Satria, sebelum rapat.
Selain para pakar dan kepala BRIN, Prabowo juga memanggil Menteri Kehutanan (Menhut), Raja Juli Antoni, dan Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani untuk hadir dalam rapat kali ini.
Berdasarkan informasi yang diterima, para pakar yang hadir di Istana, antara lain:
- Pakar Lingkungan Nottingham University Bagus Muljadi;
- Ahli Gambut dan Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Azwar Maas;
- Zakaria Amsari (Universiras Tanjungpura);
- Ahli Gambut Universitas Riau, Haris Gunawan;
- Wakil Rektor Universitas Palangka Raya, Darmae Nasir;
- Direktur Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut Universitas Palangka Raya, Henrik Segah;
- Guru Besar Teknik Keselamatan Kebakaran atau fire safety engineering (FASE) Universitas Indonesia, Yulianto S Nugroho;
- Koordinator Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi Rekla (Reklamasi Lahan) Universitas Jambi, Asmari Saad;
- Guru Besar sekaligus Ketua Kelompok Keahlian Pengelolaan Udara dan Limbah Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB), Puji Lestari;
- Guru Besar Teknik Sipil ITB, Indratmo Soekarno;
- Profesor Riset bidang Teknologi Agroforestri BRIN, Made Hesti Lestari;
- Guru besar Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Ahmad Kurnain;
- Pakar Geomatika UGM, Bambang Kun Cahyono;
- Pakar wilayah Gambut Universitas Riau, Sigit Sutikno;
- Ahli Kebakaran Hutan dan Lahan IPB, Ati Dwi Nurhayati;
- Ahli Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut UI, Muhammad Agung Santoso; dan
- Pakar Ekologi ITB, Elham Sumarga.
