Status Gunung Anak Krakatau Naik Lagi ke Level Siaga
Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan status aktivitas Gunung Anak Kraktau dari level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Warga sekitar dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari pusat erupsi.
"Badan Geologi Kementarian ESDM kembali menaikan tingkat aktivitas G. Anak Krakatau di Provinsi Lampung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) berlaku sejak 9 Oktober 2026 Pukul 21:00 WIB," demikian pengumuman Badan Geologi melalui akun Instagram resminya.
Badan Geologi pun mengeluarkan tiga rekomendasi terkait peningkatan status Gunung Anak Krakatau. Pertama, warga sekitar dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari pusat erupsi. Kedua, warga sekitar diminta waspada terhadap lontaran batu pijar, abu lebat, aliran lava, dan potensi erupsi sekunder. Ketiga, warga diminta tetap tenang, jangan mudah percaya isu tsunami, dan mengikuti arahan BPBD.
Status aktivitas Gunung Anak Krakatau sebelumnya diturunkn dari dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) pada 21 September 2026, setelah berada di level Siaga sejak 2 Juli 2026. Dalam periode peningkatan aktivitas sebelumnya, tercatat sebanyak 224 kali erupsi hingga 3 September 2026.
Meski status diturunkan, Badan Geologi tetap menetapkan rekomendasi keselamatan.
"Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung, wisatawan, pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 2 km dari pusat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau," ujar Lana.
Erupsi Gunung Anak Krakatau sebelumnya sempat menganggu aktivitas penerbangan di sejumlah Bandara, termasuk Soekarno Hatta yang ditutup pada 6 hingga 8 September 2026. PT Angkasa Pura Indonesia menaksir kerugian akibat penutupan bandara mencapai sekitar Rp 40 miliar.
Tak hanya Soekarno Hatta, sebaran abu vulkanik membuat enam bandara lain juga ditutup sementara. Adapun empat dari tujuh bandara tersebut dikelola Angkasa Pura, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Bandara Raden Inten II, dan Bandara Husein Sastranegara.
