Protes Kebakaran Hutan RI, Sejumlah Aktivis Berunjuk Rasa di COP17 Armenia

Ajeng Dwita Ayuningtyas
23 Oktober 2026, 09:17
Kebakaran hutan para Pihak (COP) ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) di Armenia, Kamis (22/10/2026).
Instagram
Sejumlah aktivis menggelar aksi damai di sela Konferensi para Pihak (COP) ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) di Armenia, Kamis (22/10/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah organisasi masyarakat sipil menggelar aksi damai di sela Konferensi para Pihak (COP) ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) di Armenia. Mereka mendesak Pemerintah Indonesia lebih serius menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang turut berdampak pada biodiversitas di dalamnya.

Dalam unggahan Instagramnya, organisasi nonpemerintah yang aktif mengampanyekan isu lingkungan dan satwa, Satya Bumi, membagikan momen aksi damai di sela-sela forum internasional yang berlangsung pada 19-30 Oktober 2026 itu.

Mengenakan masker, para aktivis membentangkan spanduk-spanduk bertuliskan "Protect biodiversity while mitigating climate crisis’, ‘No second home, restore their forest’, ‘save Indonesia biodiversity’, dan ‘Indonesia in haze".

Selain mendesak keseriusan pemerintah untuk menangani karhutla, para aktivis turut menyuarakan perlindungan bagi orangutan tapanuli yang mendiami ekosistem Batang Toru, Sumatra Utara. Orangutan tapanuli hidup di habitat terfragmentasi dengan berbagai ancaman di dalamnya.

“Di forum dunia yang membicarakan soal keanekaragaman hayati, Satya Bumi dan organisasi masyarakat sipil nasional maupun global berharap ada langkah konkret untuk perlindungan orangutan,” demikian dikutip dari unggahan Instagram Satya Bumi, pada Jumat (23/10). 

Sebuah penelitian menunjukkan, orangutan sumatra dan tapanuli harus kehilangan hutan yang menjadi ruang hidupnya seluas 94.399 hektare, selama 2011 hingga 2023. Bersamaan dengan itu, orangutan tapanuli mengalami penurunan populasi dari 767 individu pada 2011, menjadi 716 individu pada 2023. 

Selain deforestasi, ancaman lain yang menekan populasi satwa terancam punah ini adalah perburuan, perdagangan ilegal, serta konflik satwa-manusia. 

Bencana alam memberi konsekuensi yang sama. Spanduk bertuliskan ‘We lost 58 tapanuli orangutan in 2025’  turut dibentangkan dalam aksi damai, angka itu merujuk pada estimasi orangutan tapanuli yang terdampak langsung bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra Utara akhir tahun lalu. 

Ratusan Satwa Liar Dievakuasi akibat Kebakaran Hutan

Menurut data Kementerian Kehutanan, hingga 8 Oktober 2026, sebanyak 290 individu satwa liar terdampak kebakaran hutan dan lahan telah ditangani. Jumlah tersebut mencakup 96 individu orangutan dan 78 bekantan. 

Dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Abdul Haris Mustari, mengatakan bahwa kebakaran dapat melahap area perkebunan, hutan sekunder, bahkan hutan primer yang menjadi habitat penting satwa liar. Ancaman langsungnya adalah kematian satwa akibat terbakar.

Tim pemadaman kebakaran hutan juga beberapa kali melaporkan satwa mati terbakar, seperti ular maupun trenggiling. 

Sementara itu, satwa yang berhasil menyelamatkan diri terpaksa menghadapi hilangnya habitat, sumber makanan, dan air. Kondisi tersebut mendesak satwa untuk mencari habitat sementara, termasuk area perbatasan dekat perkebunan dan permukiman hingga meningkatkan risiko konflik.

“Pada akhirnya satwalah yang selalu menjadi korban dan disalahkan. Padahal, keluarnya satwa dari habitatnya terjadi karena habitatnya dirusak dan dibakar oleh manusia,”  ujar Abdul.

Dia menambahkan, butuh waktu panjang untuk memulihkan ekosistem usai dilanda kebakaran. Pulih tidak bisa hanya diukur dengan tumbuhnya vegetasi, melainkan bagaimana jaringan dan rantai makanan bagi kehidupan di dalamnya kembali terjalin. Namun, proses tersebut butuh waktu sangat panjang, bahkan ratusan tahun, dan tidak selalu kembali seperti semula.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...