Demo Mahasiswa di Bundaran HI Disorot Dunia: Kritik Prabowo dan Krisis Ekologi
Aksi unjuk rasa massal yang digerakkan oleh aliansi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil bertajuk #IndonesiaSadar di Jakarta serta berbagai kota pada Rabu (28/10) tidak hanya menyita perhatian di dalam negeri, tetapi juga menjadi tajuk utama di berbagai belahan dunia.
Sejumlah media internasional terkemuka dari kawasan regional Asia hingga Eropa menyoroti akumulasi kemarahan publik yang merespons krisis ekologi karhutla, tekanan ekonomi, hingga evaluasi terhadap dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Sorotan Media Eropa: Kritikan Kebijakan Pemerintah
Bergeser ke Benua Eropa, sorotan datang dari media asal Inggris, The Guardian. Dalam laporan investigatifnya yang diterbitkan pada Rabu (29/10) dengan judul 'Feels like we’ve gone backwards': Indonesia’s choking haze provides spark for wider protests, media tersebut memotret situasi ini sebagai titik balik kritis dalam lanskap politik Indonesia.
The Guardian menyoroti bahwa di bawah dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo, tingkat kepuasan publik merosot ke titik terendah.
Laporan itu menguliti berbagai masalah secara komprehensif, mulai dari krisis kabut asap, kontroversi program makan bergizi gratis yang sempat diwarnai kasus keracunan massal pada anak sekolah, hingga tekanan ekonomi yang melanda tanah air.
Termasuk di dalamnya menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta sentimen global dari lembaga indeks MSCI terhadap pasar keuangan Indonesia.
Sejumlah analis internasional dan lokal yang diwawancarai The Guardian memberikan pandangan mengenai arah kebijakan domestik saat ini.
Kevin O’Rourke, pengamat senior politik Indonesia, menyebut bahwa program-program populis yang bermasalah membuat pemerintah kehilangan sentuhan dengan realitas akar rumput.
Sementara itu, Yanuar Nugroho, peneliti tamu di ISEAS-Yusof Ishak Institute sekaligus mantan staf khusus kepresidenan, memberikan kritik menohok terkait kelemahan eksekusi kebijakan pemerintah:
"Pemerintah saat ini sangat kuat dalam merumuskan agenda kebijakan publik, tetapi sangat lemah dalam hal eksekusi di lapangan. Belum pernah saya melihat situasi seperti ini; saya pikir ini adalah yang paling kacau," tegas Yanuar dikutip dari The Guardian, Kamis (29/10).
Sorotan Media Asia: Asap Lintas Batas dan Desakan Bencana Nasional
Dari kawasan regional terdekat di Asia, kantor berita Singapura Channel NewsAsia (CNA) menyoroti bagaimana ratusan mahasiswa memadati jalanan protokol ibu kota di Jalan Thamrin dan Jalan Sudirman, membawa spanduk kritikan terhadap lonjakan harga dan pemangkasan subsidi.
Sedangkan media yang berbasis di Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), memperkuat laporan tersebut dengan mengangkat suara dari garda depan wilayah terdampak.
Yosafat Menteng, ketua BEM Universitas Palangka Raya yang terbang langsung dari Kalimantan, melayangkan desakan keras agar Jakarta segera bertindak.
"Kami di Kalimantan sangat mendesak pemerintah untuk mendeklarasikan kebakaran hutan yang terjadi di Sumatra, Kalimantan, dan Papua sebagai bencana nasional," ujar Yosafat, diutip dari SCMP, Rabu (28/10) .
Simbol "The Hunger Games" dan Suara Akar Rumput
Beralih ke media global lainnya, Reuters dan Agence France-Presse (AFP) yang turut dimuat oleh Malay Mail(Malaysia) dan Kuwait Times(Timur Tengah) menyoroti ekspresi kreatif para pengunjuk rasa di Bundaran HI.
Dari laporan mereka, massa tampak mengusung salam tiga jari ala film The Hunger Games. AFP juga menyoroti protes warga yang terkait kebijakan pemerintah. Salah satu poster menuliskan: "Hey Wok! Nobody paid us. We all hate you for free" (Hei Wok! Tidak ada yang bayar kami. Kami semua membenci kalian secara cuma-cuma), serta seruan “No Clean Air Under Dirty Government".
Cerita lain turut diangkat, salah satunya Sekar, warga yang turun ke jalan demi melindungi mahasiswa.
"Hati saya hancur melihat penderitaan saudara-saudara kita yang berbulan-bulan bertarung melawan kebakaran hutan dan kabut asap, di tengah pelemahan mata uang dan harga-harga yang melambung," dikutip dari AFP, Rabu (28/10).
Dari sisi konservasi, Reuters juga menyoroti keresahan atas nasib satwa liar, dan menyoroti demonstran yang menggunakan masker gas.
