Ganjar Janji Pilih Profesional untuk Kursi Menteri Ekonomi jika Menang
Calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo berniat untuk mengisi jajaran menteri ekonomi dalam kabinet dengan para profesional jika menang dalam Pilpres 2024. Hal ini penting untuk memastikan target pertumbuhan ekonomi 7% yang dijanjikannya dapat tercapai.
"Tentu saja kabinet ahli itu memang penting, khususnya untuk bidang perekonomian," katanya dalam Dialog Capres bersama Apindo, Senin (11/12).
Ia menjelaskan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 7% per tahun tidak bisa lagi ditawar. Target tersebut penting diraih untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Menurut Ganjar, usaha utama dalam pencapaian target tersebut adalah peningkatan kepastian hukum di dalam negeri. Ia menilai target tersebut baru dikatakan tercapai jika tidak ada anggota Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo yang menilai sistem perizinan berusaha di dalam negeri tak efektif.
"Kalau KKN disikat, pungutan liar dan mafia hukum disikat, maka lapangan kerja akan terbuka dan nilai rasio output modal tambahan naik. Saya yakin," kata Ganjar dalam Dialog Capres bersama Apindo, Senin (11/12).
Ganjar menyampaikan, minimnya kepastian hukum di dalam negeri membuat biaya berusaha secara nasional menjadi tinggi. Selama ini, menurut dia, pemangku kepentingan selalu membicarakan peningkatan kepastian hukum, tapi belum ada aksi riil.
Ia menekankan peningkatan kepastian hukum menjadi penting agar Indonesia tidak terjebak menjadi negara berpendapatan menengah. Ganjar menilai strategi tersebut cukup realistis melihat keberhasilan di Singapura.
"Mereka aspek good governance-nya bisa berjalan dengan baik, contohnya Singapura. Itu kenapa banyak orang mau berinvestasi di sana," ujar dia.
Ganjar pun menekankan peningkatan kepastian hukum dibarengi dengan menempatkan aktor berintegritas tinggi di pemerintahan. Maka dari itu, ia berniat untuk memilih pembantunya jika terpilih sebagai Presiden dengan tolak ukur meritokrasi.
Meritrokrasi adalah sistem politik yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan atau kelas sosial. Ia membuka kemungkinan banyak profesional yang akan masuk dalam kabinetnya meski saat ini mengaku belum memiliki daftar calonnya.
